Tuesday, April 17, 2012

Karaoke Membawa Sengsara

Kejadian ini terjadi karena saya dan pacar saya, Anna, pergi
berkaraoke baik beramai-ramai dengan teman-teman kami maupun hanya
kami berdua. Suatu hari saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada
sebuah tempat karaoke di Kelapa Gading yang memutarkan lagu-lagu
karaoke dengan gambar-gambar wanita telanjang. Karena penasaran dan
ingin mengetahui lebih lanjut saya mengajak Anna untuk pergi
berkaraoke di tempat tersebut.

Saat malam minggu, sekitar jam 22.30 saya mengajak Anna untuk
berkaraoke di tempat tersebut dan Anna pun tidak keberatan,
sebelumnya saya telah memberitahukan Anna situasi dan keadaannya.
Sesampai di sana saya langsung membooking sebuah ruangan VIP, kami
terpaksa membooking ruangan untuk sepuluh orang karena ruangan itu
yang paling kecil. Lalu kami pun diantar oleh seorang wanita menuju
ke ruangan yang telah kami booking. Sesampainya di ruangan, wanita
tersebut menawarkan minuman dan makanan. Kami hanya memesan minuman
dan makanan kecil saja, kacang garing, karena baru sejam yang lalu
kami makan. Setelah menerima orderan, wanita tersebut langsung ke
luar. Sementara itu kami berdua mulai memilih lagu yang ingin kami
nyanyikan maupun hanya untuk didengar. Dua buah lagu telah selesai
kami nyanyikan dan pintu terbuka kembali dan masuklah wanita tadi
sambil membawa pesanan kami.

Setelah lama menunggu, kami merasa penasaran karena gambar-gambar
yang hot belum juga muncul di layar TV dan ternyata gambar-gambar hot
itu baru mulai muncul setelah jam 23.30 WIB. Melihat gambar-gambar
wanita telanjang itu membuat saya mulai tinggi nafsu seksnya. Saya
mulai merapatkan duduk saya dengan Anna dan mulai melingkarkan tangan
saya di pinggangnya. Anna rupanya peka akan perubahan keadaan yang
terjadi dan ia pun mulai menyandarkan tubuhnya ke dada saya sambil
terus bernyanyi. Saya sudah sulit berkonsentrasi dengan teks-teks
yang tertulis di layar TV, tangan saya pun mulai menjalankan tugasnya.

Pertama saya mulai meraba-raba punggungnya dan kemudian perlahan tapi
pasti tangan saya mulai berpindah ke bagian depan, tangan saya mulai
menyentuh gumpalan daging yang terbungkus rapi oleh BH berenda yang
agak tipis. Saya mulai meremas-remas ke dua gumpalan daging dengan
bernafsu, Anna mulai mengeluarkan desahan-desahan lembut yang
menggoda. Desahan Anna itu semakin membuat nafsu seks saya semakin
meningkat dan segera tangan saya menyelinap di balik kaosnya yang
ketat dan langsung saya lepaskan cantelan BH di punggungnya yang
mulus. “Kunci dulu pintunya sayang, entar kalo ada yang masuk
gimana,” kata Anna, bergegas aku menghampiri pintu dan mencari
kuncinya. Pintunya tidak berkunci, segera saya berputar otak. Sofa
yang ada di dekat pintu saya dorong hingga menempel dengan pintu,
lumayan pintu itu tidak dapat langsung terbuka karena terganjal oleh
sebuah sofa.

Langsung saya balik ke sofa tempat saya duduk semula dan mulai
melepaskan kaos dan beha yang dikenakan Anna. Kali ini Anna tidak
keberatan dengan tindakan saya malah membantu saya melepaskan kaos
yang dikenakannya. Begitu kaos dan BH itu terlepas saya melihat dua
buah gumpalan daging yang sangat menggemaskan, ukurannya tidak
terlalu besar tapi sangat proporsional dengan tubuh Anna yang
ramping. Walaupun sering melihat Anna telanjang bulat, akan tetapi
saya selalu terpesona jika melihat buah dada Anna yang indah dan
sekal itu. Tak kubiarkan diriku terpesona terlalu lama, langsung
kuraih buah dada Anna yang sudah menantang untuk diremas-remas dan
dihisap-hisap. Desahan halus kembali terdengar ketika tanganku mulai
meremas-remas buah dadanya dan disertai dengan hisapan maupun
jilatan. “Ahh… ahh… ahh…, nikmat, nikmat, teruskan sayang
jangan dilepaskan hisapannya,” Anna bergumam dengan penuh nafsu.

Melihat Anna yang sudah mulai tinggi nafsunya, segera tangan saya pun
berpindah ke paha. Tangan saya pun mulai menyusup di bawah rok
mininya dan mulai meraba-raba paha yang putih mulus, sampai tangan
saya meyentuh CD-nya yang juga berenda. Segera saya pelorotkan CD itu
dan tangan saya pun kembali bergerilya di pahanya sampai di sebuah
bukit kecil yang tandus, Anna baru saja mencukur habis bulu rambut
kemaluannya, sehingga saya dapat dengan leluasa menemukan celah di
bukit itu. Segera tangan saya mulai menyusup masuk ke dalam celah dan
mulai memainkan clitorisnya yang empuk dan legit. Tubuh Anna mulai
bergetar sambil terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat,
ahh… ahh… ahh…, nikmat sayang, nikmat sekali, sambil disertai
dorongan pantat Anna. Saya pun semakin bernafsu untuk meremas-remas
kemaluannya.

Tiba-tiba Anna bangkit dari duduknya sambil berkata, “Mas mau lihat
saya menari striptease tidak?” Walaupun agak sedikit kaget karena
Anna tiba-tiba berdiri mendadak, segera aku menganggukkan kepala
pertanda setuju dengan usulnya. Anna pun kembali mengenakan seluruh
pakaiannya dan mulai memilih lagu yang akan menemaninya menari-nari.

Anna mulai berdiri di tengah-tengah ruangan dan ketika lagu mulai
dilantunkan, tubuh Anna mulai meliuk-liuk mengikuti irama lagu. Anna
meliuk-liukkan tubuh yang sintal dengan lemas dan menggairahkan, Anna
sesekali meremas-remas buah dadanya dan juga terkadang meraba-raba
kemaluannya sambil menjulurkan lidahnya. Satu lagu berlalu, Anna pun
mulai menanggalkan kaos dan BH-nya, sambil terus meliuk-liukkan
tubuhnya. Saya sebenarnya sudah tidak dapat menahan nafsu seks saya
lagi, apalagi melihat buah dada Anna bergoyang-goyang dengan
indahnya. Melihat saya yang mulai blingsatan karena nafsu, Anna
semakin hot meliuk-liukkan tubuhnya yang sintal dan tiba-tiba ia
melepaskan rok mininya terus melemparkannya ke saya. “Buka, buka,
buka CD-nya,” kataku. Mendengar teriakanku Anna semakin kerasukan dan
ia semakin bernafsu meliuk-liukkan badannya sambil terus
meremas-remas buah dadanya supaya saya semakin bernafsu.

Setelah puas melakukan gerakan-gerakan yang merangsang, Anna
membelakangiku dan mulai memelorotkan CD secara perlahan-lahan yang
semakin membuat nafsuku tidak tertahankan lagi. Segera saya tubruk
tubuhnya dan kuremas-remas buah dadanya dari belakang. Tanganku
dengan cepat menarik lepas CD-nya yang masih menempel di kakinya dan
tanganku langsung menyusup ke celah di bukitnya yang tandus. Anna pun
menjerit kenikmatan, “Aahh… ahh… ahh… nikmat, nikmat sekali
teruskan, teruskan ahh, ahh, ohh… Mas, Anna sudah tidak tahan nich
pingin ngerasain tusukan pedang Mas yang kuat dan perkasa,” katanya.
“Ok, Anna,” segera kulepaskan baju dan celana jeans yang kukenakan.

Tiba-tiba aku teringat bahwa aku membawa seutas tali dan penutup mata
yang akan kugunakan untuk mengikat tangan Anna dan juga menutupi
kedua matanya. Segera kusampaikan gagasanku itu sambil terus
merangsangnya dengan remasan-remasan di buah dadanya maupun di
kemaluannya. Anna mengangguk-angguk tanda ia menyetujui gagasanku
itu, segera aku mendudukkan tubuh Anna kembali di sofa dan saya pun
mulai mengikat kedua tangannya di sofa dan kemudian matanya pun
kututupi dengan selembar kain. Nafsuku benar-benar memuncak melihat
Anna yang dalam keadaan telanjang bulat, terikat dan tertutup
matanya. Melihat Anna yang sudah tidak berdaya dan pasrah, saya pun
langsung membuka CD yang kukenakan dan mengacunglah penis yang keras
dan gagah.

Ketika saya ingin mendekat ke tubuh Anna yang sedang duduk bersandar
dengan pasrahnya, tiba-tiba tubuh saya disergap dari belakang oleh
tiga laki-laki yang kekar dan langsung mulut saya dibekap dengan
sebuah gumpalan kain. Tubuh saya didudukkan di sofa berseberangan
(sofa di ruangan itu berbentuk huruf U) dengan tubuh telanjang Anna
dan tubuh saya pun diikat dengan kuat dan erat. “Sorry yach, gue
pinjem dulu wanita lu, lu nontonin aje kami bertiga menikmati tubuh
wanita lu, ok.”

Selesai membereskan aku hingga tak berdaya, ketiga laki-laki itu
mulai menghampiri tubuh Anna yang masih telanjang dan duduk bersandar
dengan pasrahnya menunggu untuk disetubuhi.

Melihat tubuh Anna yang telanjang bulat tanpa seutas benang, dengan
buah dadanya yang sekal dan menantang serta bukit kemaluannya yang
tandus telah membuat nafsu seks ketiga laki-laki itu meninggi. Mereka
pun lalu melakukan undian terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang
berhak menikmati Anna terlebih dahulu. Ternyata yang menang adalah
laki-laki yang agak kekar dan berkulit gelap, ia tersenyum
menyeringai dan segera menghampiri Anna dan mulai meremas-remas buah
dadanya. Anna tidak menyadari bahwa yang meremas-remas buah dadanya
bukanlah saya lagi, Anna hanya mengeluarkan lenguhan-lenguhan nikmat,
“Ahh, ahh, ahh, nikmat, nikmat sayang terus, terus, hisap, hisap
sayang.” Mendengar permintaan Anna untuk menghisap buah dadanya,
langsung laki-laki itu menghisap-hisap buah dada Anna yang menantang.

Hisapan dan jilatan laki-laki itu semakin membuat Anna bernafsu,
terlihat dari tubuhnya yang mengejang-ngejang dan juga puting susunya
tampak menegang. Anna sudah tidak dapat lagi menahan nafsunya, “Ayo
sayang masukkan barangmu, cepat sayang, ahh, ahh, aah, aku sudah
tidak tahan lagi nich,” seru Anna. Permintaan Anna segera disambut
dengan tusukan kemaluan laki-laki itu yang berukuran cukup besar,
panjangnya sekitar 17 cm dan tebalnya sekitar 4 cm. Mulanya ujung
kemaluan laki-laki itu hanya menempel di kemaluan Anna dan perlahan
tapi pasti ia mulai menggoyangkan pantatnya sehingga kemaluannya
mulai menusuk ke dalam kemaluan Anna. Setelah yakin kemaluannya pada
arah yang benar, langsung laki-laki itu menghentakkan pantatnya
dengan keras sehingga amblaslah seluruh kemaluannya ke dalam kemaluan
Anna. Ahh… ah… ahh, ooohh, nikmat sayang, nikmat, ohh…
nikmatnya.” Desahan Anna semakin membuat laki-laki itu mempercepat
gerakan pantatnya sehingga juga semakin membuat Anna menjerit nikmat.

Melihat temannya sedang asyik menikmati tubuh telanjang Anna, membuat
kedua laki-laki yang lainnya menjadi tidak tahan juga. Mereka pun
akhirnya menghampiri dan mulai ikut menikmati tubuh Anna dengan
meremas-remas dan menjilati serta menghisap buah dada Anna. Karena
nafsu sexnya yang sudah memuncak, Anna tidak menyadari bahwa yang
menikmati tubuhnya tidak hanya satu orang melainkan tiga orang. Anna
hanya terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, sampai suatu
saat tubuh Anna tiba-tiba mengejang dengan kuat yang menandakan bahwa
ia telah mencapai puncak kenikmatan yang ternyata dibarengi oleh
tembakan dari kemaluan si laki-laki itu. Satu menit tubuh Anna
mengejang-ngejang dengan nikmat dan kemudian tubuh Anna pun mulai
melemas.

Setelah selesai menunaikan tugasnya laki-laki yang pertama pun
mencabut senjatanya dan duduk di sofa dengan tubuh berkeringat.
Laki-laki yang kedua pun mulai melakukan tugasnya dengan mulai
merangsang Anna lagi dengan jilatan-jilatan di buah dadanya dan juga
remasan-remasan di kemaluannya. Setelah beberapa lama Anna mulai
terangsang lagi dan mulai terdengar kembali suara desahan nikmatnya.
Tanpa membuang waktu, laki-laki yang kedua pun mulai menancapkan
kemaluannya di lubang kemaluan Anna. Walaupun ukurannya tidak sebesar
laki-laki yang pertama tapi karena lubang kemaluan Anna yang masih
sempit maka tetap saja Anna merasa nikmat dan mulai mendesah, “Ahh,
ah, ahh, ooh… nikmat, nikmat, ahh… ahh… nikmat sekali.”

Setelah beberapa menit laki-laki yang kedua tidak lagi dapat menahan
semburan lahar panas. Rupanya Anna belum mendapatkan orgasme yang
kedua sehingga cepat-cepat laki-laki yang ketiga menancapkan
kemaluannya ke lubang kemaluan Anna yang sudah basah oleh cairan dari
laki-laki yang kedua dan juga cairan dari kemaluan Anna sendiri.
Laki-laki yang ketiga pun langsung menggempur Anna dengan kecepatan
tinggi sehingga nafsu Anna kembali meninggi dan Anna pun kembali
mengeluarkan desahan, “Ahh, ahh, ough… terus, terus, makin cepat,
makin cepat, ahh… ooogh… nikmat, nikmat, nikmat, ahh…” Setelah
beberapa menit kemaluan Anna terus digempur akhirnya tubuh Anna
mengejang dengan keras sambil menjerit nikmat, “Aahh… ooogh…”
Anna telah mencapai klimaksnya yang kedua yang juga dibarengi dengan
semburan dari laki-laki yang ketiga.

Setelah ketiga laki-laki itu menikmati tubuh Anna, muncul niat mereka
untuk membagi kenikmatan itu dengan teman-teman mereka yang lain yang
ada di ruangan VIP yang lain. “Bagaimana kalo kita bawa wanita ini ke
tempat teman-teman kita dan kita nikmatin bersama-sama,” kata salah
satu dari laki-laki itu. “Setujuuu…” kedua laki-laki itu menyahuti
ajakan tersebut. “Steve, cepat ambil kamera di tempat anak-anak, kita
foto dulu nich wanita biar dia nanti nurutin kemauan kita,” segera
laki-laki yang bernama Steve mengenakan kembali pakaiannya dan
bergegas keluar dari ruangan. Tak lama kemudian laki-laki yang
bernama Steve itu pun sudah kembali dan menenteng sebuah kamera.

“Bangun manis,” kata laki-laki itu seraya melepaskan tutup mata yang
masih menempel di mata Anna. Rupanya Anna tertidur setelah merasakan
kenikmatan orgasme sebanyak dua kali. Tubuh Anna terlihat menggeliat
perlahan dan mulai membuka matanya. Ketika Anna membuka matanya,
betapa terkejutnya ia melihat ternyata ada tiga laki-laki yang tidak
ia kenal ada di samping tubuhnya yang telanjang. Tubuh Anna
meronta-ronta sambil berkata, “Lepaskan saya, lepaskan saya.” “Sabar
manis, kami akan melepaskan ikatan kamu setelah kami selesai membuat
foto tubuhmu yang telanjang.” Segera laki-laki itu memotret tubuh
telanjang Anna dari berbagai arah dan Anna pun tidak dapat berbuat
banyak untuk menutupi mukanya ataupun kemaluannya karena kedua
tangannya masih terikat di sofa.

Setelah laki-laki itu selesai membuat foto telanjang Anna segera ia
mengeluarkan film dari kamera dan mengantunginya. “Ok, manis kami
sudah selesai membuat foto telanjangmu jadi sekarang kamu nurut aja
sama kami atau kami cuci film ini dan kami sebarin ke temen-temen lu
dan juga orang tua lu!” Mendengar perkataan laki-laki itu Anna
tersadar bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti
kemauan mereka atau film itu akan membuatnya malu di kemudian hari.

“Steve lepasin ikatannya.” Setelah ikatannya terlepas segera Anna
mencari pakaiannya, tapi ternyata pakaiannya sudah berada dalam
genggaman salah satu laki-laki itu. “Ini yang kamu cari manis,”
sambil laki-laki itu menunjukkan pakaian Anna. “Udech lu nggak usah
mikirin buat make pakaian lu lagi, kami semua justru pengen ngeliat
tubuh lu yang mulus itu tanpa sehelai benang pun. Ayo sekarang lu
ikut kami ke ruang yang lain.” kata salah satu laki-laki itu. “Eh,
gimana nich dengan pacarnya, mau kita biarin di sini atau kita ajak
aje kesebelah biar dia bisa ngeliatin kita semua nikmatin tubuh
wanitanya.” kata temannya yang lain. “Bawa aje sekalian, ntar kalo
ketauan ama pelayan di sini bisa berabe, jangan lupa bajunya juga
dibawa.”

Kami berdua pun digiring dalam keadaan telanjang bulat keluar dari
ruangan itu dan menuju ke sebuah ruangan lain yang ada di ujung.
Sesampai di ruangan itu ternyata di situ ada delapan orang laki-laki
yang sedang asyik berkaraoke sambil minum-minuman keras. “Hay
teman-teman, gue bawain oleh-oleh nich buat kita nikmati bersama-sama
sampe puas”, seraya laki-laki itu mendorong tubuh telanjang Anna ke
tengah-tengah ruangan. Melihat tubuh Anna yang telanjang bulat,
segera semua laki-laki itu berteriak-teriak kegirangan. “Wow, ok
bener nich oleh-oleh lu, dapat dari mana? Dan siapa tuch laki-laki
yang lu bawa?” tanya temannya. “Gue nemuin wanita ini di ruangan
karaoke lain dan ini laki-laki adalah pacarnya, tapi dia udeh
ngijinin kita untuk nikmatin tubuh wanitanya kok, iya khan?” seraya
laki-laki itu mendorong tubuhku ke lantai hingga aku pun terjerembab
di lantai. “Ok, teman-teman mari kita mulai pestanya jangan
buang-buang waktu lagi.”

“Eh, lu nari-nari dulu dech buat kami makin nafsu dan lu musti
memohon-mohon kepada kami semua supaya kami mau nikmatin tubuh lu,”
seru salah seorang laki-laki itu. Mendengar perintah itu Anna hanya
bisa pasrah dan mulai menggoyangkan tubuhnya yang putih mulus itu.
“Ayo narinya yang semangat donk, kayak tadi waktu lu nari buat laki
lu,” rupanya laki-laki itu sudah mengintip kami dari awal. Dengan
terpaksa Anna pun mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan lebih
bersemangat dan Anna pun berusaha menikmati keadaan itu. Lama
kelamaan pun Anna semakin hot menggoyangkan tubuh sambil
meremas-remas buah dadanya dan juga kemaluannya, sambil mengeluarkan
suara desahan, “Aahh, ahh, ayo nikmatin tubuh saya, ahh… ahh, ayo
siapa yang mau nikmatin saya, ayo silakan nikmatin tubuh saya, aahh,
ahh, jangan malu-malu.”

Melihat Anna yang menari-nari dengan hot, maka semua laki-laki itu
mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu hingga telanjang bulat. Anna
sempat terkaget-kaget ketika melihat kemaluan laki-laki itu yang
sudah berdiri tegak semua dan sebagian besar berukuran besar, lebih
kurang 18 cm dan ketebalannya sekitar 4,5 cm. “Ayo manis silakan
pilih yang mana yang mau lu pake duluan,” sambil kesebelas laki-laki
itu merubungi tubuh telanjang Anna. Rupanya dikelilingi laki-laki
telanjang telah membuat sensasi lain bagi Anna, ia merasakan suatu
keinginan yang selama ini terpendam dalam dirinya, yaitu berhubungan
seks dengan beberapa orang laki-laki sekaligus dapat terwujudkan
walaupun keadaan ini sebenarnya tidak ia inginkan. Melihat kesebelas
penis mengacung di dekatnya seakan-akan meminta untuk dielus dan
diremas, maka Anna sengaja memainkan penis-penis itu sehingga membuat
para laki-laki itu semakin tidak dapat menahan nafsunya.

“Ayo cepetan pilihnya manis atau lu mau kita semua sekaligus
menikmati tubuh lu.” Anna hanya diam saja sambil ia memainkan dua
buah kemaluan yang ukurannya paling besar sehingga membuat kedua
laki-laki itu blingsatan keenakan, “Oohh… ohh… nikmat juga
remesan lu manis.” Tetapi hanya sebentar saja Anna memainkan kedua
kemaluan itu segera ia berpindah ke kemaluan yang lainnya lagi.
“Rupanya lu minta dikerjain sekaligus dengan beberapa laki-laki, ok
kalo itu maunya lu maka akan kami berikan manis.”

Anna pun disuruh berlutut dan menghisap kemaluan salah seorang
laki-laki dan setelah cukup basah maka Anna pun disuruh berjongkok di
atas kemaluan laki-laki yang berdiri tegak, dengan perlahan Anna
mulai memasukkan kemaluan itu ke dalam kemaluannya, dengan perlahan
tapi pasti kemaluan itu terbenam semuanya ke dalam kemaluan Anna yang
diiringi jeritan nikmat dari Anna, “Ahh… ahh… ahh.” Kemudian Anna
disuruh menumpukkan tubuhnya dengan kedua buah tangannya sehingga
pantat Anna agak menungging yang segera disambut dengan kemaluan yang
telah ia jilati, perlahan tapi pasti kemaluan itu menerobos masuk ke
lubang pantatnya, tubuh Anna mengejang karena lubang pantatnya terasa
nyeri dengan masuknya kemaluan itu, tiba-tiba laki-laki itu
menghentakkan dengan keras pantatnya sehingga seluruh kemaluannya
amblas ke dalam lubang pantat Anna, dan Anna pun menjerit antara
nikmat dan sakit.

Melihat mulut Anna yang terbuka lebar, seorang laki-laki yang tepat
berdiri di depan muka Anna langsung memasukkan kemaluannya ke dalam
mulut Anna sehingga Anna pun tersedak karena sekarang mulutnya
tersumpal dengan kemaluan. Selain itu dua orang laki-laki lain tidak
mau menyia-nyiakan buah dada Anna yang ranum dan sekal itu, segera
kedua laki-laki itu pun menjilati dan menghisap-hisap dengan penuh
nafsu.

Jadilah Anna dinikmati oleh lima orang sekaligus yang membuat Anna
tidak dapat menahan nikmat yang dirasakan, sakit yang dirasakan di
lubang pantatnya pun telah berubah menjadi kenikamtan yang tiada
taranya. Dengan penuh semangat kelima laki-laki itu pun menikmati
tubuh mulus Anna sehingga membuat Anna sampai orgasme tiga kali dan
pada orgasme yang keempat kenikmatan itu semakin lengkap dengan
disertai semburan dari tiga kemaluan laki-laki yang memenuhi di
setiap lubang yang dimilikinya, kemaluannya, lubang pantatnya dan
mulutnya. Ketiga laki-laki yang telah mendapatkan kenikmatan segera
digantikan dengan tiga orang laki-laki lainnya dan hal ini terus
dilakukan sampai semua laki-laki mendapatkan kepuasannya dan Anna pun
sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia mendapatkan orgasmenya.
Setelah lebih kurang 3 jam para laki-laki itu menikmati Anna, mereka
pun kecapaian dan beristirahat. Anna pun kecapaian dan terkulai lemas
dengan perasaan nikmat yang tidak terlupakan.

Norzalina

Pada suatu hari Norzalina dan suaminya, Ali, dikunjungi Pak Dollah. Pak Dollah yang berumur 53 tahun adalah ayah mertua Norzalina. Berbeda dengan Ali yang tampan dengan hidung yang mancung dan badan yang tegap, Pak Dollah lebih tampak gempal dan berotot. Sebuah codet bekas luka menyilang di pipi kirinya. Norzalina, menantu pak Dollah, tak kalah rupawannya dengan Ali. Meskipun tidak terlihat seksi karena selalu berpakaian tertutup, perempuan ini memiliki bibir yang indah dan sepasang mata yang mampu mengguncangkan dada banyak laki-laki. Pasangan suami isteri yang baru menikah satu tahun yang lalu ini tentu sangat gembira dengan kedatangan pak Dollah yang telah bercerai dengan isterinya 6 tahun yang lalu. Terlebih lagi, meskipun Norzalina pernah bertemu dengan ayah mertuanya tersebut sebelumnya, tetapi pak Dollah tidak bisa hadir dalam pesta pernikahan mereka. Selama sepekan Pak Dollah tinggal di rumah Ali yang mengajar di sebuah sekolah yang berhampiran dengan rumahnya. Semua berjalan normal sampai terjadi tragedi di hari akhir pak Dollah dirumah Ali.

Tragedi itu bermula pada hari libur pasangan Ali-Norzalina. Namun, hari itu Ali mengajar satu kelas tambahan di sekolah dan akan bertandang ke rumah salah satu siswa hingga Ashar. Seperti biasa Norzalina menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya dan pak Dollah. Selepas menghantar suaminya ke muka pintu, Norzalina sempat berbincang dengan mertuanya. Kemudian dia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci baju. Pak Dollah yang kebetulan hendak pula buang air tanpa sengaja melihat aE~pemandanganaE? yang merangsang. Rupa-rupanya Norzalina terlupa merapatkan pintu. Mata liar pak Dollah tak lepas melahap tubuh mulus Norzalina yang tengah mencuci baju. Seingat pak Dollah, dia tidak pernah melihat tubuh menantunya dalam keadaan terbuka dengan hanya terbalut kain setinggi dada. Tubuh mulus Norzalina yang semampai dengan tinggi 170-an, dengan kulit kuning langsat dan dada yang kencang membusung tersebut, selama ini selalu tertutup kerudung dan baju muslim yang rapat. Selain itu, menantunya terkenal dengan sifat sopan santun dan sangat menitikberatkan tentang soal penjagaan aurat. Malahan didalam rumah sekalipun menantunya tidak pernah menanggalkan kerudungnya melainkan ketika bersama suaminya saja.

Namun kini, kain tipis yang basah itu tak lagi mampu menyembunyikan kemolekan tubuh Norzalina dari tatapan penuh nafsu sang ayah mertua. Tak tertahan lagi, syahwat pak Dollah mengegelegak hingga ke puncak dan mendorongnya untuk membuka pintu kamar mandi yang hanya A? tertutup tersebut. Norzalina yang merasakan kehadiran orang lain sangat terperanjat ketika menoleh dan menyaksikan pak Dollah sedang mendorong daun pintu. Secepat mungkin dia bangkit dan berusaha menutup pintu, hanya saja dia kurang gesit. Pak Dollah sudah berhasil masuk ke dalam kamar mandi dan mendorong tubuh menantunya tersebut ke pinggir bak sebelum mengunci pintu. Norzaina terdesak ke pojok dengan wajah ketakutan melihat seringai binal yang menghiasi wajah mertua yang selama ini terlihat pendiam dan sangat dihormatinya.

aE~Aa..Aayah apa yang ayah lakukan ini? i?! tanya Norzalina dengan terbata-bata . Pak Dollah hanya tersenyum sinis sambil matanya meliar ke segenap jengkal tubuh menantunya. Tanpa berucap sepatah katapun, Pak Dollah mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Norzalina terpekik ketika melihat aEsbatangaE? ayah mertuanya yang hitam dan besar serta tegak mengacung ke arahnya. aEsA..ayah jangan yahh, ttoo..long keluar, yah..tolong..aEt, keadaan ini sangat menakutkan lagi Norzalina apalagi ketika pak Dollah mulai beringsut mendekatinya. Melihat permintaannya diabaikan, Norzalina yang tidak rela diperlakukan begitu mencoba untuk menerobos ke sisi kiri ayah mertuanya untuk mencapai pintu. Namun keadaan menjadi bertambah buruk ketika pak Dollah dengan sigap menangkap pinggang menantunya tersebut dengan tangan kirinya yang kukuh sembari tangan kanannya bergerak kilat menghentak lepas ikatan kain di dada Norzalina. aEsBreetaEt kain tipis bermotif batik coklat itupun jatuh terburai ke kamar mandi.
Terpampanglah tubuh mulus Norzalina yang hanya dibaluti kutang sutra berenda putih dan celana dalam mungil yang juga putih. Norzalina sangatlah malu mendapati dirinya nyaris bugil dan tengah dipeluk oleh ayah mertuanya yang sudah telanjang bulat. Pak Dollah kini dengan bebas menatapi tubuh mulus menantunya dari dekat; dari dua bukit menawan yang menghiasi dada yang kembang kempis ketakutan hingga gundukan vaginanya yang begitu mengundang walaupun dibungkus kain sutra. Bungkus indah itu justru mencetak lekat lekak liku dan guratan liang kemaluan menantunya yang rupawan. Bulu kemaluan yang membayang tipis serta mencuat malu-malu di sekeliling selangkangan Norzalina membuat pak Dollah tercekat dan tak mampu berkedip. Sebaliknya, Norzalina mendadak lemas, sendinya serasa luluh di dalam pelukan pak Dollah dan hanya mampu memejamkan matanya serta mulai menangis tertahan.

aE~Huu.huu.. ayaah, jangan berbuat seperti ini ayah,..huu.huu.huu.. aku ini istri anakmu..aEt bisik Norzalina lirih sambil terus terisak. Pak Dollah yang telah lama tidak merasai kehangatan liang kemaluan perempuan sama sekali tak peduli. Dihentakkannya tubuh Norzalina dengan penuh nafsu hingga tersandar ke dinding kamar mandi. Norzalina masih berusaha melindungi dirinya dari terkaman mertuanya. Dia kemudian membalikkan badan ke dinding berusaha menjaga payudara dan kemaluannya dari pandang liar pak Dollah. Namun itu tak bisa menghentikan pak Dollah dan tanpa ba-bi-bu dia langsung merenggut kutang sutra berenda yang masih melindungi buah dada menantunya itu dari belakang. Robeklah kutang tersebut seiring dengan lepasnya kaitan akibat renggutan ganas pak Dollah dan aEsaaah..aEt mulut pak Dollah ternganga saat dia membalikkan tubuh Norzalina dan bersitatap dengan sepasang bukit kenyal dan ranum dengan dua puncak merah muda yang mendadak tersembul di depan dada perempuan muda tersebut.

Dengan nafas tersengal-sengal karena nafsu yang memuncak pak Dollah tak menunggu lama untuk beraksi. Dengan sigap dijejalkannya tengan kirinya ke mulut menantunya yang masih tersedu tersebut untuk menahan isakannya, sedangkan bibirnya yang tebal segera menuju ke arah dada Norzalina. Pak Dollah walaupun sudah dicengkeram nafsu hingga ubun-ubun berusaha keras untuk tidak terburu-buru dalam memanfaatkan peluang ini. Bibirnya tidak langsung mengulum puting merah muda Norzalina namun dengan acak mengecup sekeliling buah dada kanan sang menantu. Dia tidak hanya mencium namun bibir kasarnya juga mencecap dan mencubit pinggiran gundukan bukit itu dengan lahap. Secara bersamaan telapak tangan kanannya terentang menangkupi buah dada kiri Norzalina. Jari-jarinya menyentuh pangkal buah dada dan pelahan mulai menekan-nekan dengan teratur. Puting kiri Norzalina yang berada di tengah telapak pak Dollah tentu saja tergesek-gesek bersamaan dengan gerakan jarinya yang makin lama makin kencang.

Norzalina meregang, dia dapat merasakan bibir dan jari jemari mertuanya menjelajahi dadanya. Wajahnya memucat dan lehernya mendongak tegang saat perasaan geli dan nikmat yang sebelum ini hanya didapat dari Ali, suaminya, kini dirasakan dari gelutan pak Dollah. Rasanya ingin memekik namun bibir mungilnya terhalang tangan pak Dollah. Norzalina hanya mampu melenguh pendek di saat perasaannya mulai terbagi antara rasa terhina dan kenikmatan, antara malu dan perasaan bersalah dengan naluri wanitanya untuk menuntaskan birahinya yang mulai bangkit. Pak Dollah peka akan hal ini, segera dieratkannya terkamannya. Bibirnya masih terbenam di dada Norzalina namun kini lidahnya mulai bermain, berputar menyapu buah dada itu dari pinggir menuju tengah serta menjilat tegak puting Norzalina yang mulai teracung kencang dan kemudian menghisap-hisapnya dengan dalam-dalam. aEsOooh..auugh..aaach..aEt desah tertahan menantunya makin sering terdengar saat tangan kanan pak Dollah tidak lagi berbasa-basi dan kini mulai meremas-remas buah dada kiri Norzalina serta jari jemari dan telapak tangannya bergantian memilin, menarik, dan memijit puting yang satunya lagi. Tidak kurang dari lima menit pak Dollah menikmati dada menantunya dengan posisi berdiri. Berkali-kali lehar dan kepala Norzalina terhentak-hentak ke dinding mengikuti hisapan dan remasan pak Dollah. Kemudian tanpa terduga Norzalina yang mulai terbuai gairahnya, pak Dollah menggigit buah dada Norzalina sekencang-kencangnya dan tangan kanannya meremas keras puting kiri. aEsAaaach..aEt jerit kesakitan bercampur kenikmatan dari bibir Norzalina menyeruak kencang karena saat bersamaan pak Dollah melepaskan tangan kirinya dari mulut sang menantu.

Tubuh Norzalina tersandar kaku di dinding, seluruh raganya mengejang dan kepalanya terdorong ke depan dengan bibir yang membulat tanpa suara ketika tangan kiri pak Dollah yang sudah bebas mulai menyelinap ke balik celana dalamnya, menggeser cepat di pinggir bibir kemaluannya serta kemudian menghujam langsung ke kelentitnya. Telunjuk itu kemudian berputar-butar di dalam liang kemaluan Norzalina dan mengorek-ngorek kelentitnya dengan pilinan-pilinan liar. Bibir Norzalina makin membuka lebar saat tangan kanan Pak Dollah menarik turun celana dalam sutranya hingga robek dan dilemparkan ke pojok kamar mandi. Pak Dollah kini sudah dalam posisi berjongkok, sambil terus mengorek kelentit menantunya matanya terbeliak lebar saat menatap kemaluan Norzalina yang terpampang begitu dekat di depan matanya. aEsoh. Ali, engkau sungguh anak yang beruntung ..aEt batinnya dalam hati saat dia menyaksikan guratan dan lekak-lekuk vagina yang begitu menantang. Di tempelkannya hidungnya disamping telunjuk kirinya yang masih giat bekerja dan kini mulai mengocok kencang. aEsOooh.. sedaap..aEt desis pak Dollah saat dia membaui aroma wangi vagina yang mulai bercampur bau lelehan cairan kewanitaan di liang kemaluan Norzalina yang juga mulai bengkak.

Mata Norzalina masih terpejam, keringat membasahi punggung serta kepalanya sudah tersandar lagi ke dinding menahan rasa perih dan nikmat yang datang bergantian. Namun itu tidak berlangsung lama, kepalanya kembali terdorong ke depan dan mulutnya bibirnya kembali melenguh kelezatan saat pak Dollah melanjutkan aksinya. aEsaEtAiiih..aah..aaah..aaahhh..aEt desis itu keluar saat pak Dollah menggunakan lidahnya untuk menggantikan jari telunjuknya dalam memainkan kelentit Norzalina. Lidah pak Dollah menyisir pinggir luar bibir kemaluan Norzalina secara vertikal naik turun, naik turun, sebelum menggelincir ke tepi bagian dalamnya dengan menyapu liang hangat itu secara horizontal dan kemudian membenamkannya dalam-dalam secara berulang-ulang, keluar-masuk, keluar-masuk. Pak Dollah seakan dimabuk kenikmatan yang mendalam. Dicecapnya hangat lipatan-lipatan vagina Norzalina dengan lahap. Sudah bertahun-tahun dia tidak merasakan sensasi yang dahyat ini. Dimainkannya kelentit Norzalina dengan lidah dengan sapuan-sapuan dan pilinan-pilinan kecil namun mantab.

Sembari mengulum dan menghisap, ke dua belah tangan pak Dollah mulai bergantian meremas bongkahan pantat Norzalina. Tak henti-henti kesepuluh jemari gempal pria uzur itu membenamkan cengekeramannya ke dalam dua bongkahan daging yang bulat tanpa cacat milik sang menantu. Sesekali telunjuk kanannya menusk kerang lubang anus Norzalina dan mengocoknya. Tak terperikan gelombang kenikmatan yang menjalari segenap indra Norzalina. Tanpa sadar tangannya yang selama ini tergantung lemah di kedua sisi tubuhnya bergerak ke depan mencengkeram rambut tipis pak Dollah dan mendorong kepala mertuanya tersebut agar makin terbenam ke dalam kemaluannya. Tak lama kemudian terdengar lolongan panjang sang menantu aEsOoooouughhhaE|aaaayaaahhhaE|..aEt seiring dengan meledaknya seluruh gairah yang selama ini tertahan. Runtuh sudah pertahanan terakhir Norzalina, tubuhnya mengejan dan melengkung ke depan sementara seluruh liang vaginanya telah banjir dengan cairan kenikmatan.

Pak Dollah menarik wajahnya dari kemaluan Norzalina, tangannya dilepaskan dari kedua bongkah pantat sang menantu dan diapun beringsut mundur. Dipandangnya tubuh lemas Norzalina pelahan-lahan merosot turun di dinding kamar mandi sampai akhirnya kemudian terduduk. Mata Norzalina terpejam, bibirnya membentuk bulatan aEsoaE? kecil sementara tarikan garis wajahnya menyiratkan kepuasan yang tak terkira sebelum kemudian wajah rupawan itu terkulai ke arah bahu kiri. Tanpa menunggu waktu lama pak Dollah bergerak maju lagi. Ditariknya kedua kaki Norzalina hingga tubuhnya sepenuhnya telentang di lantai kamar mandi dan tidak lagi bersandar di dinding. Dengan sigap dijilati bagian dalam paha kanan Norzalina sementara tangan kirinya berkeliaran mengelus-elus paha dan betis kanan Norzalina. Norzalina hanya memandang sayu, sementara kepalanya, menggeleng-geleng pelahan ke kiri dan ke kanan mencoba menahan rangsangan baru yang dilakukan pak Dollah.
Tiba-tiba Norzalina memekik kecil saat tanpa berkata apapun, pak Dollah menyibakkan lebar-lebar ke dua kaki Norzalina yang sebelumnya masih terentang berdekatan. Norzalina sadar akan apa yang akan dilakukan oleh mertuanya kemudian. Dengan lirih menahan segala gairahnya Norzalina masih berusaha berbisik mengingatkan pak Dollah aEsJangan ayah..jang..auuuhaEt, bisiknya terpotong saat batang pak Dollah yang sudah hampir setengah jam tegak itu menerobos masuk ke dalam liang kemaluannya. Dua tangan perkasa pak Dollah mengunci bahunya sehingga dia tak mampu melawan saat tubuh tambun mertuanya mulai menindih raganya. Kedua kaki Norzalina yang terbuka memudahkan batang pak dollah memasuki lubang vaginanya. Sedikit demi sedikit batangnya disodok-sodokkan keluar masuk dalam liang yang telah basah berlendir tersebut, awalnya pelan kemudian makin lama makin laju. Kadang-kadang pak Dollah menahan batangnya di tengah liang kemudian memutar pinggulnya pelahan dan mantap bergantian ke arah kiri dan kanan, lalu kemudian tiba-tiba dibenamkannya lagi dalam-dalam hingga menembus pangkal vagina Norzalina. Lama kelamaan Norzalina tidak mampu lagi berbuat apa-apa selain mengikuti langgam sodokan dan tarikan ayah mertuanya. Terlebih lagi karena bibir dan lidah pak Dollah tak pernah henti menyapu perut, dada, leher, dan bibir Norzalina. Satu waktu saat menyodokkan batangnya dalam-dalam, bibir pak Dollah secara bersamaan melumat puting kiri dan kanan Norzalina secara bergantian. Norzalina hanya mampu memejamkan mata menahan kegairahan yang telah menguasai dirinya lalu setelah hampir lima belas menit lolong kecilnya kembali terdengar di sela-sela deru nafas pak Dollah aEsEemmmm..urrrghh..aaahhhhhh, aaahhhh, aahhhhaE|aEt Untuk kedua kalinya perempuan cantik itu meledak dalam birahi. Dagunya kemudian mendongak dengan mata yang membola meskipun bibirnya telah terkatup rapat.

Pak Dollah menyeringai lebar saat melihat menantu tersayangnya tenggelam dalam kenikmatan. Ditunggunya sampai kepala Norzalina terkulai lagi ke lantai dan matanya terpejam. aEshmm.. ayo sayang, permainan kita belum selesai..aEt geram pak Dollah saat dia dengan kasar membalikkan tubuh Norzalina. Pak Dollah yang nafsunya masih tidak puas, memaksa Norzalina yang sudah tidak berdaya itu untuk menungging dengan siku menempel lantai. Segera disibakkannya dua bongkah pantat untuk membuka jalan bagi batangnya yang masih tegak mengacung ke arah liang kemaluan Norzalina. Setelah menggigit dua bongkahan daging itu dengan bernafsu, tangan pak Dollah memegang sisi punggung menantunya lalu menekan batangnya kedalam lubang vagina Norzalina. Punggung Norzalina yang besar dan putih membuatkan pak Dollah semakin bernafsu. aEsAaah..sakkkiiitttt ..ayahhh..aEt, jerit Norzalina saat liang vaginanya kembali ditusuk-tusuk oleh batang pak dollah dengan beringas. Sodokan-sodokan pak Dollah dengan gaya doggy style ini sedemikian laju sehingga kembali membuat Norzalina merem melek dan mendesisi-desis, namun ketika merasakan bahwa tubuh pak dollah mulai mengejan seakan menuju klimaks, Norzalina pun panik dan berusaha menahan goyangan sang mertua menjerit aEs..jangaannn, jangn lepaskan didalamm..yahhaE?, pintanya dengan lirih. Pak Dollah sesaat berhenti dan kemudian berkata aEsBaiklah Lina tapi dengan satu syarataEt, kata pak Dollah. aEsLina harus hisap batang ni sampai keluar air kalau tidak ayah lepaskan mani ayah ke dalam rahimmu, bagaimana?aEt. aEsBaiklahhhaEt jawab Norzalina dengan pasrah.

Pak Dollah segera merambat naik menuju ke arah kepala Norzalina yang sudah kembali telentang di lantai. Dia meletakkan kedua lututnya di samping Norzalina dan kemudian menarik wajah ayu yang tengah lunglai itu untuk menghadap batangnya yang masih tegak. aEsAyo Lina, kulum batang ayahaEt. Walaupun jijik, Norzalina terpaksa mengulum batang pak Dollah. Batang yang hitam dan berotot itu segera saja emmenuhi rongga mulut Norzalina. Kuluman demi kuluman segera dilakukan Norzalina dengan sis tenaga yang ada. Seesekali pak Dollah memintanya bergantian untuk menjilat, mengulum dan mengocok. Sudah lebih lima menit Norzalina melakukan itu semua namun pak Dollah belum menunjukkan tanda-tanda ingin berejakulasi. Malahan pak Dollah terus meramas buah dada menantunya itu. Akhirnya Norzalina kepenatan. aE~Ayah..jangan dilepaskan di dalam..ayah..aE?, rayu Norzalina setengah sadar saat tenaganya telah musnah dan kesadaran mulai meninggalkan dirinya. Norzalina pun pingsan karena keletihan. Melihat hal ini pak Dollah kembali menyeringai lebar. Direngkuhnya tubuh menantunya yang sudah terkulai lemas tersebut lalu direntangkannya kembali kedua kaki Norzalina. Tanpa disadari Norzalina, pak Dollah kembali membenamkan batangnya ke dalam liang kemaluan menantunya serta melakukan sodokan-sodoakan yang lebih liar dan kencang daripada sebelumnya. Sesaat kemudian pak Dollah pun mengejan wajahnya tegang mendongak ke atas dengan batang yang tertanam penuh dalam liang vagina Norzalina, lalu aEs AaaaarghaE| LinaaaaaaE|.aarrghhh..aEt cairan sperma menyembur dari batang pak Dollah memenuhi setiap lekuk dan liku vagina Norzalina dan mengalir deras menuju rahimnya. Pak Dollahpun terkulai lemas di atas tubuh sang menantu.

Setelah beristirahat selama satu jam, pak Dollah pun bangkit. Norzalina masih terkulai lemah di lantai kamar mandi. Pak Dollah tersenyum puas mengingat kembali pengalaman indah yang dirasakannya bersama Norzalina. Dengan hati-hati pak Dollah membopong tubuh Norzalina kembali ke kamar setelah mengenakan pakaiannya. Dia pun menunggu Norzalina tersadar dan mengancam menantunya tersebut untuk tidak menceritakan apa yang terjadi kepada Ali. Akhirnya, setelah Dzuhur, pak Dollah meninggalkan rumah dan terus pulang ke kampung. Norzalina yang malu telah merahasiakan kejadian itu dari pengetahuan suaminya selama berbulan-bulan dan berharap mertua jahanam tersebut tidak pernah akan muncul berkunjung lagi.

Dua bulan berlalu sejak peristiwa di bilik mandi tersebut dan Norzalinapun mendapati dirinya hamil. Suaminya, Ali, gembira tiada kepalang mendapat berita itu tanpa mengetahui perkara sebenarnya. Sebaliknya Norzalina sangatlah gelisah. Walaupun pak Dollah telah berjanji untuk tidak menumpahkan spermanya ke dalam liang kemaluannya, namun karena tidak sadarkan diri Norzalina tidak pernah tahu pasti akan hal itu (baca bagian 1) . Hanya saja, Norzalina memilih untuk memendam ketakutannya itu sambil berharap agar mertua jahanamnya tersebut tidak berbuat curang dan tak lagi datang untuk mengganggu kehidupannya kembali.

Norzalina pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Selepas 7 bulan melahirkan Hafiz, anak laki-lakinya tersebut, dia hidup dalam kebahagiaan bersama dengan suaminya. Pak Dollah yang menghilang tiada kabar berita membuat hidupnya perlahan-lahan kembali mulai tenang. Hanya saja, kebahagiaan itu tidak berusia panjang. Suatu petang, sepulang Ali dari mengajar di sekolah, dia berkabar bahwa pak Dollah akan berkunjung lusa untuk menengok cucu pertamanya. Dingin terasa sekujur tubuh Norzalina saat mendengar berita dari suaminya tercinta. Kedamaian yang dia pikir telah didapatkan tiba-tiba saja kembali terancam bahaya. aEsAda apa, Lina? Kamu tampak terkejut mendengar bapak hendak berkunjung?aEt, tanya Ali padanya, aEsKau tak suka kah dia menengok Hafiz?aEt tanyanya lebih lanjut. aEsTi..tidak, bang. LiaE|Lina hanya kaget karena sudah setahun lebih beliau tiada berkabar berita..aEt, Norzalina berusaha menutupi kegugupannya. aEsOh, bapak memang selalu begitu. Setahun ini dia berniaga ke Trengganu dan baru tahu kelahiran Hafiz dari bibi saat pulang kampung kemarin..aEt tutur Ali tanpa menangkap gebalau perasaan Norzalina. aEsBegitukah, bang? Tapi kalau memang lusa beliau datang, Lina harap abang bisa menunda kepergian abang ke Kedah hingga beliau pulangaEt, bujuk Norzalina, aEsLina takut tidak bisa menjamu beliau dengan baik kerana sibuk menjaga HafizaEt, pinta Norzalina dengan cemas. aEsBaiklah, Lina, karena bapak cuma tiga hari di sini, abang akan tunda perjalanan ke Kedah sampai beliau kembali ke kampungaEt, kata Ali. aEsTerima kasih, bangaEt, Norzalina menghela nafas lega karena tidak akan sendirian menghadapi pak Dollah.

Pak Dollah datang lusa petang dengan dijemput Ali di stesen bas. Tidak banyak yang berobah dari mertuanya itu dari saat terkahir mereka berpisah. Perutnya makin tambun dan kulitnya makin legam, namun yang membuat Norzalina gemetar adalah tatapan mata pak Dollah yang makin liar setiap kali memandang ke arahnya. Mata yang tajam itu seakan mampu menengok menembus kerudung dan baju kurung rapat yang selalu dipakai Norzalina. Tatapan mertuanya itu membuatnya mual dan berkunang -kunang setiap kali mereka bertemu pandang karena mengingatkan Norzalina kembali atas apa yang telah dilakukan pak Dollah terhadapnya. Seakan masih terasa benar kecupan-kecupan panas dan remasan kasar pak Dollah di sekujur tubuhnya. Sebaliknya, pak Dollah bersikap seakan tiada pernah terjadi apapun di antara mereka.

Dua hari sejak kedatangannya semua masih aman bagi Norzalina. Pak Dollah lebih banyak berbincang dengan Ali, sedangkan Norzalina lebih sering menghindar dan meminta mak Siti, janda tetangga sebelah, untuk menemani menjaga Hafiz setiap saat Ali harus pergi mengajar.Namun, naas menimpa pada malam terakhir. Seusai santap malam, Norzalina sibuk mencuci piring di dapur sementara Ali dan pak Dollah sedang berbincang di teras depan. Norzalina bersenandung kecil, hatinya dipenuhi kelegaan karena esok semua sumber ketakutan dan mimpi buruknya dalam dua hari terakhir akan berlalu. Pikirannya yang menerawang sambil sibuk membasuh piring sisa santap malam membuatnya tidak bersiaga dan tak sedar saat seseorang berjingkat memasuki dapur.

aEsOough..aEt, Norzalina terpekik saat sebuah lengan yang kekar melingkar di pinggangnya yang ramping dan di saat bersamaan sebuah kecupan yang ganas mendarat di tengkuknya, menembus kerudung yang dikenakannya. aEs Lina..kamu semakin cantik ya..aEt, suara serak yang berbisik lirih ditelinga Norzalina kemudian serasa melumpuhkan seluruh indera wanita muda tersebut. Benaknya tercekam dengan kengerian oleh ingatan peristiwa memalukan yang dialaminya setahun lalu dan gelas yang tengah dicucinya pun terlepas dari gengamannya. aEskenapa, sayang? Kamu tak rindukah dengan ayah..? Ayah kangen sekali Lina..aEt. Pak Dollah yang kini telah memeluk Lina dari belakang tidak menyia-nyiakan kelengahan dan keterkejutan Norzalina. Sambil terus berbisik dan menciumi tengkuk dan bahu menantunya yang masih tertutup jilbab lebar, tangan kiri pak Dollah yang semula melingkar di pinggang Norzalina perlahan merayap turun mengarah ke pangkal paha terus ke bagian depan kemaluan Norzalina. Sementara itu di saat yang bersamaan jari-jemari tangan kanannya menyusup di balik baju kurung longgar yang dikenakan Norzalina dan dengan cepat menyusur dari perut ke arah dadanya. aEsAaaugh..aayah..ach..bang aalii..auugh..toolong..aEt Norzalina menjerit tertahan menahan kecupan yang bertubi-tubi diterimanya. Tubuhnya yang semampai terbungkuk ke depan saat jemari kasar pak Dollah yang terentang lebar telah menggenggam organ kewanitaannya dan mulai meremasnya dengan ganas. Kedua tangan Norzalina mencengkeram erat tepi tempat mencuci piring sedangkan paha kanannya yang secara refleks bergerak ke depan mencoba menahan serbuan pak Dollah walaupun tanpa disadarinya justru menjepit cengkeraman pak Dollah di vaginanya lebih erat.
Pak Dollah terkekeh melihat reaksi gugup menantunya tersebut. Jepitan paha Norzalina tidak mampu menghalangi kelincahan jari jemarinya untuk tidak hanya meremas namun juga sesekali menusuk celah kemaluan Norzalina. aEsAaauchaE|aEt, belum lagi Norzalina mampu meredam permainan jari lelaki tua tersebut, matanya yang semula terpejam menjadi terbeliak dan tubuhnya yang merunduk tersentak ke belakang saat jemari pak Dolah yang lain berhasil masuk di balik kutang sutranya serta mulai meremas payudara dan memilin puting susu kanannya serta menjepit dan menarik-nariknya. aEsTenang, Lina. Ali sedang bertandang ke rumah Hassan. Ayah pastikan kita punya waktu yang cukup untuk saling melepas rindu.he.he..he.aEt, pak Dolah melanjutkan bisikannya sambil kesepuluh jemarinya bekerja meremas, menusuk, mengobel, memilin dan mencubit dengan buas. Norzalina seakan lumpuh mendengar perkataan mertuanya. Tubuhnya bergantian terhentak ke belakang serta terbungkuk ke depan saat remasan-remasan yang dilakukan pak Dollah bertubi-tubi mengaduk vagina dan payudaranya.

aEsSeranganaEt yang dilakukan pak Dollah baru berlangsung tak lebih dari sepuluh menit namun waktu seakan berhenti bagi Norzalina. Kain kurungnya telah tersingkap sampai ke pinggang sehingga tangan kanan pak Dollah dengan leluasa sudah mencengkeram bulat-bulat kewanitaan Norzalina dari balik celana dalam satinnya. Jari tengahnya sudah bermain dengan kelentit menantunya dan tak jemu mengocok liang kewanitaan Norzalina yang mulai basah dengan cairan kewanitaan yang membanjir. Sementara itu lidah dan bibir pak Dollah tanpa henti mencecap dan menjilat leher jenjang Norzalina yang telah terbuka karena kerudung putihnya telah disingkapkan ke atas dan menutupi wajahnya yang tertunduk lemah. Tiadanya perlawanan yang berarti dari Norzalina tersebut tentu saja juga memudahkan kerja pak Dollah di payudara wanita itu. Bergantian sepasang bukit yang ranum itu dijelajahinya bolak-balik dengan mudah. Telapak tangannya memutar dan meremas, mencengkeram keras dan menekan-nekan tiada hentinya gundukan daging yang lembut dan kenyal tersebut.

Pandangan Norzalina makin lama makin gelap, remasan dan permainan jari yang dashyat dari sang mertua membuat kesadarannya main melayang. Nafasnya makin lama makin tersengal. . Sebaliknya, pak Dollah makin bersemangat. Tangannya yang semula sibuk mengocok liang kewanitaan Norzalina secara kasar menyentakkan celanan dalam sang menantu dan menariknya ke arah bawah. Tanpa bisa dicegah kain segitiga satin yang mungil itu terus melorot hingga ke bawah lutut. Pak Dollah terpana melihat bongkahan pantat mulus yang kini tersaji dihadapannya. Tanpa sedar dia berdecak aEsck.ck.ck.., betapa indahnya engkau Lina..aE?. Kedua tangan bandot tua itu segera saja meremas dengan gemas daging yang lembut itu. Norzalina hanya mampu menggeliat kecil ketika sebuah rangsangan yang hebat merambat dari remasan pak Dollah dan menggetarkan seluruh inderanya. Tanpa menunggu reaksi sang menantu lebih lanjut, pak Dollah berlutut di belakang Lina sehingga wajahnya sejajar dengan celah pantat Norzalina. Kedua tangannya kemudian mencengkeram paha Norzalina dan kemudian menyibakkannya lebih lebar. Sekejap kemudian pak Dollah menundukkan kepalanya dan mulai memainkan bibir dan lidahnya di kemaluan wanita malang itu.

Pertama-tama ditekankannya wajahnya ke seluruh permukaan vagina Norzalina yang sudah basah kuyup akibat ketrampilan jari-jemari pak Dollah. Dihirupnya dalam-dalam bau harum vagina sang menantu yang telah bercampur dengan bau merangsang cairan kewanitaannya. aEsSruup, sruuuupaE|aEt, bibirnya mendecap limpahan cairan tersebut dan memagut erat celah kewanitaan Norzalina yang telah menguak lebar. Seluruh tubuh Norzalina bergetar lemah, bibirnya tak mampu memekik dan hanya berbisik lirih saat lidah kasar sang mertua mulai menyusuri tiap jengkal vaginanya. Lidah itu bergerak liar tidak hanya menyusur ke dalam liang kenikmatannya namun juga menyapu tandas setiap celah lipatan yang ditemuinya. Decapan-decapan bibir yang ditingkahi gigitan-gigitan kecil yang terus berulang membuat Norzalina luluh. Tubuhnya kini sepenuhnya tiarap bertumpu sepenuhnya pada bak cucian tanpa daya. Kepalanya hanya menggeleng ke kiri dan ke kanan saat gigi-gigi pak Dollah menggigit ganas bongkahan kewanitaannya.

Namun agaknya pak Dollah belum merasa puas. Setelah direguknya kelezatan vagina Norzalina, diapun bangkit kembali. aEsTahan sayang.. ayah masih mau ragakan satu permainan lagiaE|he..he.he..aEt, sambil terkekeh kecil pak Dollah menekan tubuh menantunya ke depan hingga makin mencondong ke bak cucian sementara tangan kirinya menjemba pinggang Norzalina dan menunggingkannya sedikit ke atas. Diturunkannya resleting celananya yang sudah sesak dengan batang penisnya yang telah menggembung dari tadi. Segera teracunglah batang yang liat dan hitam itu di depan bongkahan pantat Norzalina. Tanpa aba-aba batang itu menusuk deras ke dalam celah pantat Norzalina. aEsAaaarghhhaE|aEt selunglai apapun Norzalina, tubuhnya mengejang hebat saat penis perkasa sang mertua dengan laju menyumpal kewanitaannya. Tubuhnya yang semula seakan teronggok lemah di meja bak cucian tiba-tiba terangkat, wajahnya memerah dengan bibir yang membulat sebelum kemudian kembali luluh. Kegelapan mulai merayapi pandangan Norzalina saat pantatnya berguncang-guncang mengikuti irama sodokan penis pak Dollah. Tusukan-tusukan pak Dollah yang makin lama makin kencang dan dalam itu seakan menghentak-hentak kesadaran wanita malang tersebut. Dia hanya mampu bergumam lirih setiap sodokan-sodokan panjang yang dilakukan pak Dollah bergantian dengan tusukan-tusukan pendek dan cepat menghujam dalam-dalam ke vagina Norzalina. Dalam keadaan yang sangat menderita tersebut Norzalina hanya dapat berharap agar mertuanya tersebut tidak sampai berejakulasi dan menumpahkan spermanya ke dalam peranakannya.

Untunglah, sebelum Norzalina kehilangan kesadaran secara penuh dan pak Dollah mencapai puncak, tiba-tiba terdengar bunyi pintu pagar berderit dan salam diucapkan. aEsBedebah.aEt, pak Dollah menggeram pelan dan menyumpah-nyumpah karena menyadari Ali telah pulang. Ditusukkannya penisnya ke liang kemaluan Norzalina untuk terakhir kalinya sambil berbisik aEs sudah dulu ya sayang..aEt. Bibir Norzalina mendesis lemah saat menerima tusukan yang dilakukan pak Dollah dalam-dalam tersebut. Pak Dollah bergegas melepaskan pelukannya dan menarik celana dalam satin Norzalina kembali ke atas. Dengan sigap dia menegakkan tubuh Norzalina serta menurunkan kembali baju kurung dan kerudung menantunya sehingga seluruh tubuh wanita itu kembali tertutup rapat. Sebelum meninggalkan dapur dia berbisik lirih ke telinga Norzalina aEs Jangan kau bilang ini kepada Ali, sayang jika kau masih sayang anakmu ..aEt Kemudian dengan sigap dia bergerak keluar dapur menuju ruang tamu untuk menyambut Ali di beranda untuk memberikan waktu pada Norzalina membenahi diri dan memulihkan kesadarannya. Norzalina masih bertumpu lemah di bak cuci, pandangannya nanar dan pikirannya masih beku. Benaknya dicekam kengerian mendengar ancaman mertuanya tersebut. Dia sadar bahwa bajingan tua itu tidak sekadar menggertak. Namun, dia bersyukur bahwa Ali datang sehingga dia bisa terhindar dari aib yang lebih besar. Dia berharap malam segera berlalu dan esok mertua durjananya segera pulang ke kampung sehingga mimpi buruknya akan berakhir.

Arman,Lisa Dan Jarot

Sepasang manusia sedang bergumul bugil di atas ranjang. Keduanya berpelukan erat. Yang pria menindih si wanita. Kaki si wanita yang melingkar di sekeliling pinggul pasangannya seolah ikut membantu gerakan-gerakan si pria menyetubuhinya. Keduanya saling memagut dan mengulum mulut pasangannya. Menikmati setiap detik keintiman mereka.

Cuaca Jakarta di musim kemarau yang cerah dan panas seolah menjadi saksi persenggamaan mereka yang panas.

Si pria bernama Arman. Ia seorang marketing executive pada sebuah perusahaan nasional. Usianya baru 28 tahun. Wanita yang sedang digelutinya adalah istrinya yang baru dinikahinya tujuh bulan, Lisa. Ia adalah karyawati pada sebuah perusahaan jasa telekomunikasi di Jakarta. Usianya 25 tahun.

Arman sangat mencintai istrinya yang cantik rupawan itu. Kulitnya halus dan putih bersih. Nikmat sekali merasakan kelembutan tubuhnya saat ditindih dan disetubuhinya. Aroma tubuhnya begitu wangi alami. Suaranya pun merdu didengar. Apalagi saat mengeluarkan erangan nikmat di tempat tidur… Arman sangat menyukainya…

Sejak pacaran, orang sering mengatakan mereka pasangan yang serasi. Yang satu cantik, yang lain tampan. Keduanya berasal dari keluarga yang mapan dan berpendidikan tinggi. Masing-masing memiliki karir yang cerah.

Malam itu mereka tuntaskan dengan meraih puncak kenikmatan bersama-sama. Selesai bersetubuh, masih dalam keadaan bugil di balik selimut, mereka pun membahas rencana yang sudah mereka susun.

“Jadi Boss sudah mengizinkan Papah untuk cuti?” tanya Lisa membuka percakapan.

“Iya, Mah…” jawab Arman tersenyum. “Jadi minggu depan kita mudik ke Sumatera.”

Lebaran tahun itu Arman dan Lisa sepakat merayakannya di kampung halaman Arman di Bukittinggi. Arman ingin mengajak Lisa yang asli Jawa untuk melihat keindahan alam kampung halamannya itu.

“Hmmm… kalau begitu jadi ya petualangan pertama kita…?” senyum Lisa.

“Ha ha ha… sudah gak sabar ya..?” timpal suaminya. “Iya. Nanti kita akan melewati hutan juga… Banyak lah petualangan yang bisa kita lakukan…”

“Termasuk petualangan seks….?” goda Lisa sambil tersenyum nakal.

“Ha ha ha… Ya… ya… Tentu. Ide yang menarik…” jawab Arman bergairah. “Seperti… petualangan seks di hutan misalnya..?”

“Ha ha ha… kalau gitu Mamah jadi Jane… Papah jadi Tarzan…” gelak Lisa.

Keduanya pun tertawa terbahak-bahak. Sementara malam pun kian larut…

Di daerah sekitar jalan lintas Sumatera sering terjadi bencana kekeringan. Hal itu akan mengakibatkan para warga di sekitarnya kelaparan karena hasil pertanian dan kebun mereka gagal.

Setiap musim paceklik datang, di daerah itu sering terjadi perampokan terhadap mobil angkutan barang atau penumpang yang melintasinya. Untuk menghindari peristiwa itu, para sopir, baik truk, bus umum, dan mobil pribadi jika melewati daerah itu selalu beriringan secara konvoi. Daerah itu amat angker dan ganas. Belum lagi ditambah dengan kondisi jalan yang rusak parah.

Saat itu adalah penghujung musim kemarau. Cuaca mulai menampakkan perubahan ke arah musim hujan. Jalan yang rusak itu pun menjadi kotor dan becek hingga membuat lobang-lobang besar di badan jalan. Kesempatan itulah yang kadang digunakan oleh para perampok untuk menjarah mobil yang lewat saat berjalan perlahan.

Arman menyetir sendiri Nissan Terrano-nya. Ia tidak memakai jasa sopir. Selain ingin jalan santai juga supaya bisa menikmati keindahan alam hutan sepanjang perjalanan. Arman dan Lisa sama-sama memiliki hobi traveling ke tempat yang alami. Kesempatan mudik itulah yang mereka manfaatkan untuk sekalian menyalurkan hobinya.

Dalam melakukan perjalanan jauh itu mereka bergantian menyetir. Jika Arman capai maka Lisa yang menggantikan. Mereka hanya melakukan perjalanan dari pagi hingga sore. Pada malam hari mereka menginap pada hotel yang mereka temui. Perjalanan mudik itu amat santai dan dinikmati pasangan muda itu.

Pasangan ini memilih membawa mobil sendiri karena tidak ingin merepotkan para famili di kampungnya. Dengan membawa mobil sendiri, mereka pun dapat jalan-jalan sesuka hati mereka. Lagipula jika naik pesawat akan membuat mereka repot mengurus tiket dan terpaksa akan mengganggu waktu santai mereka.

Setelah menyeberang, mereka pun melanjutkan perjalanan ke Sumatera. Beberapa jam mereka berhenti untuk makan siang pada sebuah restoran di pinggir jalan lintas itu.

Sore harinya mereka memasuki wilayah yang terkenal angker tersebut. Arman berusaha mencari penginapan dan motel di sepanjang jalan yang penuh dengan hutan lebat. Di daerah itu memang jarang ada motel. Yang ada hanya rumah makan sederhana yang biasa dipakai oleh sopir truk untuk istirahat.

Beberapa kilometer kemudian mereka menemukan sebuah motel kecil. Mereka memang tidak ingin melanjutkan perjalanan malam. Tubuh mereka berdua sudah capai dan penuh keringat. Yang mereka inginkan adalah segera istirahat malam itu.

Motel yang mereka temui cukup sederhana. Mereka lalu masuk dan menemui petugas motel. Rupanya masih ada kamar yang tersedia. Sayangnya mereka cukup kecewa setelah mendapati tarif yang diajukan oleh si petugas cukup mahal. Dengan angkuhnya si petugas yang rupanya sekaligus pemilik motel kecil itu menolak tarifnya ditawar. Padahal sebenarnya ia memang telah menaikkannya di atas tarif normal karena melihat penampilan calon tamunya yang mencerminkan orang yang mapan ekonominya.

Bagi suami isteri itu memang tidak ada pilihan lain. Jika terus berjalan, maka hari telah larut. Lebih baik istirahat di motel itu meskipun sewanya mahal. Dengan terpaksa, Arman pun membayar tarif sewa yang diajukan. Mereka berdua lalu diantar menuju kamar yang diberikan si pemilik motel.

Begitu masuk, Lisa langsung merasa amat jijik melihat kondisi kamar itu. Kain spreinya saja amat jorok. Keempat dindingnya dipenuhi oleh coretan dan kata-kata kotor. Apalagi dinding itu banyak lobangnya yang di tutup dengan isolasi. Lisa sempat mengeluh pada Arman.

“Aduuh, Pah… Motel semacam ini koq mahal amat, siiih….?” gerutunya. “Mana budukan lagi….”

Arman cuma bisa menghela napas sambil merangkul istrinya.

“Yaah, Mah… Emang gak bisa kalo membandingkan motel ini dengan yang di Jakarta…” kata Arman menenangkan istrinya yang cukup sewot saat itu.

“Anggap aja ini bagian dari petualangan kita…” lanjutnya.

“Kamu pernah punya khayalan kita berbulan madu ke hutan dan bercinta seperti Tarzan dan Jane, kan…?” goda Arman. “Naah… anggap aja ini bagian dari perwujudan khayalan kita….”

Lisa hanya mencibir dan menonjok suaminya dengan manja. Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian, mereka pun tidur di kasur yang tipis itu. Sebelumnya, Lisa melapisi kasur itu dengan bed cover yang kebetulan ia bawa di mobilnya karena sprei yang ada amat kotor dan bau.

Saat malam semakin larut, pasangan suami istri itu berusaha untuk tidur. Namun tak lama kemudian mereka terjaga oleh suara gaduh di sebelah kanan kamar mereka.

Samar-samar terdengar suara-suara erotis dari sepasang pria dan wanita yang sedang memadu birahi…. Sesekali terdengar pula kata-kata kotor yang diucapkan si pria saat melampiaskan nafsunya. Dari kata-kata yang dikeluarkannya, tampak sekali betapa kasar dan tak berpendidikannya laki-laki itu. Bunyi derit dipan dan dengus nafas dua manusia yang sedang bersetubuh itu terdengar begitu jelas di malam yang hening itu. Tak pelak, suara-suara itu membuat Arman dan Lisa terbangun.

Saat itu di kamar sebelah mereka rupanya ada seorang pria yang membawa seorang pelacur dan melakukan hubungan seks. Motel itu memang sebenarnya lebih banyak digunakan oleh para sopir maupun begal setempat untuk beristirahat dan melampiaskan nafsu syahwatnya bersama para pelacur. Terbukti bahwa tak lama kemudian, dari kamar sebelah kirinya pun terdengar suara-suara yang sama.

Lisa mulai menjadi kesal. Ia bahkan mengajak Arman keluar motel saja untuk melanjutkan perjalanan. Ia merasa bunyi-bunyi itu amat mengganggu istirahatnya.

Arman pun berusaha membujuk dan merayu istrinya. Akhirnya, Lisa pun menjadi lebih tenang. Sambil menyarankan Lisa untuk rileks, tangan Arman membelai bagian tubuh istrinya yang sensitif. Walaupun tak diutarakannya, sebenarnya Arman malah merasa terangsang mendengar suara-suara itu.

Karena belaian dan pilinan tangan Arman yang menggoda, Lisa pun ikut naik birahinya. Akhirnya mereka melakukan persebadanan pula seakan tidak mau kalah oleh pasangan-pasangan yang sedang beraktifitas di kamar-kamar sebelahnya.

Malam itu Lisa dihantarkan Arman hingga orgasme. Mereka lalu tertidur karena letih setelah pendakian itu. Lisa dan suaminya tertidur sambil telanjang. Lisa menghadap dinding sedangkan Arman memeluknya dari belakang.

Di luar pengetahuan suami istri itu, melalui sebuah lobang yang ada di dinding kamar mereka, ada sepasang mata yang mengintip aktifitas seksual mereka. Mata itu milik seorang dedengkot begal di daerah itu. Begal itu baru saja melakukan hubungan seks dengan seorang pelacur.

Mulanya ia iseng saja mengintip. Kebetulan selepas menyetubuhi pelacur yang dibawanya, ia mendengar dengus nafas pasangan suami istri itu saat melakukan hubungan seks. Ternyata apa yang dilihatnya benar-benar memikatnya dan menerbitkan air liurnya….

Dengan seksama si begal memperhatikan tubuh suami istri itu mendaki puncak kenikmatan. Ia pun amat terpana dan terpikat akan kecantikan Lisa saat bugil dengan suaminya. Seumur hidupnya belum pernah ia melihat langsung seorang wanita secantik itu. Ia hanya tahu kecantikan Lisa seperti kecantikan bintang-bintang sinetron yang ia saksikan lewat televisi.

Sosok telanjang Lisa amat menggodanya sehingga menimbulkan birahinya untuk menikmati tubuh perempuan itu. Lisa memang cantik. Wajahnya mirip artis sinetron. Persisnya, ia jadi teringat dengan aktris Berliana Febrianti. Bahkan Lisa lebih cantik dan sexy dibandingkan Berliana…
Begal itu melihatnya dengan penuh kekaguman. Sesaat ia membandingkan sosok Lisa dengan pelacur yang baru saja ia gauli… Perbedaannya bak siang dan malam….

“Kok ngintip-ngintip kamar sebelah segala, Bang?” tanya si pelacur yang baru saja ditiduri begal itu tiba-tiba.

“Masih mau nambah..?” sambung perempuan setengah umur itu. “Ayo, Bang… kalau mau nambah lagi…”

“Aaah… jangan banyak cakap kau…” sergah si begal yang merasa terusik keasyikannya oleh ocehan pelacur itu.

“Ini uangmu… cepatlah kau keluar…” usir Begal itu. “Ayo… cepat..”

“Iiih… Abang, kok sewot begitu sih…?” timpal si pelacur kesal sambil cepat-cepat memberesi pakaiannya.

“Kalo yang di kamar sebelah itu pasangan suami isteri, Bang… Bener lho… Abang gak bisa tidur sama itu cewek, biar nunggu sampai kapan pun… Mendingan sama saya aja…” goda si pelacur sambil melangkah keluar kamar.

Si begal membanting pintu kamar. Lalu ia menyusun sebuah rencana untuk dapat menaklukkan Lisa. Birahinya saat itu untuk menggauli Lisa tinggi sekali namun ia kecewa karena ada suaminya yang tidur di samping Lisa saat itu.

“Mungkin tidak malam ini…. tapi aku harus bisa mendapatkan perempuan cantik itu….” gumam si begal sambil kembali mengamati tubuh telanjang Lisa yang saat itu sedang tidur bersama suaminya setelah selesai bersetubuh.

Diamatinya terus tubuh mulus ibu rumah tangga itu dengan penuh napsunya… Tak lama kemudian si begal pun melakukan masturbasi sambil membayangkan bersetubuh dengan Lisa… Saat mencapai orgasme, ia pun melenguh dengan kerasnya….

“Uuuuuuaaaaagggghhhh….. Hhhhhhhhh….. HHHuaaaah….”

Suaranya yang panjang dan keras memecah keheningan malam… Lisa pun sampai terbangun mendengarnya namun suaminya tetap tertidur pulas di sampingnya. Sejenak matanya menatap ke arah dinding kamar sebelah tempat suara itu berasal… Karena kamar tempat Lisa dan suaminya tidur terang benderang, si begal itu pun bisa menatap kedua mata Lisa yang bening dan indah… Tentu saja perempuan itu tak bisa melihat sebaliknya karena terhalang dinding…..

Ah, sudah semalam ini masih saja ada aktifitas di kamar sebelah, pikir Lisa.

Ia pun lalu membaringkan tubuhnya kembali… tanpa pernah terlintas sedikit pun kalau dalam waktu yang tak lama lagi ia akan sangat akrab dengan suara itu… dan juga pemiliknya…

Pagi harinya setelah mandi dan makan seperlunya mereka bersiap melanjutkan perjalanan. Pagi itu amat cerah. Arman pun menyetir dengan tenang dan santai. Sesekali ia menggoda Lisa yang saat itu memakai kacamata minus dan busana casual yang amat serasi dengan kulitnya.

Baru berjalan beberapa kilometer, Arman merasakan perutnya mules serasa ingin buang air besar. Keringat dinginnya muncul.

“Ada apa, Pah? Kamu sakit ya?” tanya Lisa.

“Auuh, aku ingin buang hajat nih… perutku sakiit,” jawab Arman meringis sambil menghentikan mobilnya.

Kemudian kemudi diambil alih istrinya. Lisa pun membawa mobil perlahan dengan harapan ia dapat menemukan sebuah rumah makan atau rumah penduduk di tengah perjalanan itu.

Tidak lama kemudian mereka melihat sebuah rumah yang terbuat dari kayu agak jauh dari pinggir jalan. Perasaan memang itulah satu-satunya rumah yang mereka temui sejak meninggalkan hotel tadi… Rumah itu berada agak ke dalam hutan. Lisa membelokkan mobilnya memasuki jalan tanah menuju rumah itu.

Sesampainya di sana, Lisa pun turun dan menemui seorang lelaki yang ada di depan rumah itu.

“Permisi, Pak… Boleh saya numpang ke kamar kecil?” pinta Lisa pada sang peghuni rumah.

“Wah, kami tak punya WC, Bu. Kalau mau buang air biasanya ke sungai di belakang rumah saja,” jawab si laki-laki.

Lisa lalu balik ke mobil dan minta suaminya turun. Ia mengatakan Arman bisa buang hajat di sungai belakang rumah karena rumah itu tidak punya WC. Tanpa pikir panjang, Arman mengikuti petunjuk istrinya dan berlari ke arah sungai itu.

Sementara menunggu suaminya, Lisa dipersilakan si laki-laki untuk duduk di teras rumahnya. Sambil tersenyum berterima kasih, wanita itu pun mendaratkan pantatnya ke sebuah kursi kayu sederhana sambil meluruskan kedua kakinya. Si penghuni rumah sendiri lalu meneruskan aktifitasnya. Sesekali ia tampak masuk ke hutan dan luput dari pandangan Lisa.

Sosok laki-laki itu memang membuat ngeri orang yang melihatnya. Usianya kira-kira 47 tahun. Tubuhnya kekar. Kulitnya hitam legam. Brewoknya yang tak tercukur dengan rapi menutupi raut wajahnya yang keras. Dari sela-sela kaos kumal yang dikenakannya, tampak codet-codet bekas sayatan benda tajam di sekujur tubuhnya. Sekilas tampak pula tato yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya. Penampilannya membuat Lisa bergidik. Dalam hati ia bersyukur laki-laki itu tak menemaninya duduk di situ.

Sebenarnya si pemilik rumah kayu adalah laki-laki yang mengintip Lisa dan suaminya bersebadan di motel tadi malam. Lisa sama sekali tidak mengetahuinya. Laki-laki itu tinggal seorang diri di rumah itu. Ia adalah seorang perampok yang sering menjarah harta para sopir yang melewati kawasan itu.

Tunggu punya tunggu, Arman belum juga balik dari buang hajat. Lisa mulai gelisah. Sudah hampir setengah jam ia menunggu, suaminya belum juga muncul. Ia pun bertanya pada si pemilik rumah.

“Jambannya jauh tidak, Pak?” tanya Lisa.

“Ah, dekat sini kok, Bu. Di belakang rumah saya ini,” jawab laki-laki itu.

Lisa merasa semakin gelisah dan menyusul mencari suaminya. Ditemukannya sungai yang dimaksud dan ditelusurinya sepanjang tepiannya. Apa daya suaminya maupun tanda-tandanya tidak juga ditemukan….

Akhirnya ia pun balik ke rumah itu dan minta tolong pada si laki-laki untuk mencarinya. Laki-laki itu lalu pergi mencari Arman agak lama. Lisa pun sebelumnya dipersilakan duduk di dalam rumahnya.

Beberapa jam kemudian laki-laki itu datang kembali sendirian. Ia mengabarkan Lisa bahwa ia tak berhasil menemukan suaminya. Lisa cemas dan panik.

Dengan putus asa, diajaknya pria itu untuk mencari lagi suaminya bersama-sama. Sambil menemani Lisa, pria itu memberikan berbagai kemungkinan.

“Mungkin saja suami Ibu terpeleset dan hanyut di sungai yang deras itu.”

“Tapi suami saya pandai berenang, Pak… Ia termasuk anggota arung jeram…” timpal Lisa.

“Ya, tapi nasib orang kan siapa tahu, Bu… Jangan remehkan kekuatan alam…” jelas lelaki itu. “Sudah banyak kasusnya warga sini yang jelas-jelas akrab dengan sungai ini terbawa hanyut…”

“Apalagi sungai ini memang angker, Bu… Ada penunggunya…”

Lisa diam saja sambil pikirannya menerawang membayangkan suaminya mendapatkan musibah.

“Kemungkinan lain…. bisa jadi suami Ibu ketemu binatang buas… Hutan ini masih banyak harimaunya, Bu…”

Lisa bergidik mendengar kemungkinan itu. Ia semakin sedih. Pikirannya bertambah kacau. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

Si pria akhirnya menjanjikan pada Lisa untuk melanjutkan pencarian esok pagi karena malam telah menjelang dan hujan mulai turun. Lisa masih shock akan kejadian itu. Ia amat khawatir akan keselamatan suaminya. Dengan terpaksa ia akhirnya menerima saran dari si pria itu untuk mencari lagi esok hari.

Padahal saat Arman buang hajat tadi pagi, si laki-laki penghuni rumah bolak-balik mengawasinya. Begitu Arman selesai, begal itu tanpa kesulitan yang berarti melumpuhkannya. Diikat dan dikurungnya Arman di dalam sebuah kerangkeng untuk menangkap harimau. Kerangkeng itu ia taruh di dalam hutan agak jauh dari rumahnya sambil ditutupi dedaunan. Dipastikan bahwa pria malang itu tidak akan bisa meloloskan diri tanpa pertolongan orang lain.

Laki-laki itu membuat jebakan untuk Arman karena tergiur untuk merampas istrinya. Arman sakit perut karena sarapan miliknya di motel memang telah dibubuhi ramuan pencahar isi perut. Tak sulit melakukan itu karena si pemilik motel adalah teman baik si begal.

Pada malam itu, selesai melakukan masturbasi sambil memandangi tubuh telanjang Lisa, si begal langsung menemui dan membangunkan pemilik motel. Diceritakannya niatnya yang bulat untuk mendapatkan Lisa. Melihat tekadnya yang kuat, si pemilik motel akhirnya setuju untuk membantu temannya. Imbalan yang diminta adalah jika si begal berhasil, ia harus membagi tubuh wanita itu kepadanya. Tak bisa dipungkiri, si pemilik motel pun tergiur pula oleh kecantikan dan keseksian tubuh Lisa. Si begal langsung menyetujuinya.

“Bereslah, kawan… Kita kan saudara… Sesama saudara patutlah kita saling berbagi…”

Si pemilik motel mengangguk-angguk senang.

“Setelah aku menuntaskan napsuku pada wanita itu, kau pun pastilah dapat bagian,” lanjutnya. “Kau kan tahu aku orang yang tahu membalas budi…”

Mereka lalu tertawa terkekeh-kekeh dengan tercapainya kesepakatan di antara mereka.

Setelah berdiskusi dan bertukar pikiran semalaman, mereka pun berhasil membuat rencana yang matang. Pembahasan ditutup dengan saling membagi tugas. Selanjutnya, seperti telah diketahui, sejauh ini semua berjalan sesuai rencana…

Malam itu Lisa sangat gelisah, yang ada di pikirannya hanya Arman suaminya. Matanya sembab karena sedih. Lalu si pria mendekatinya.

“Bu, sabar aja, nanti suami ibu juga pulang. Besok kita cari ya?” bujuk si pria.

Lalu si pria mengenalkan diri.

“O… ya, Bu… nama Ibu siapa?” sambil mengulurkan tangannya yang kasar penuh bulu itu.

“Lisa, Pak…” Lisa mengulurkan tangannya juga.

“Nama yang cantik sekali… Secantik orangnya…” puji pria itu spontan. Lisa pun tersipu…

Si pria lalu menyebutkan namanya.

“Jarot. Nama saya Jarot,” terang si pria sambil menggenggam tangan halus Lisa. Ia merasakan kehalusan jemari dan kehangatan tangan Lisa. Lalu ia lepaskan.

Dengan logat Komering yang kental, Jarot bertanya pada Lisa tentang tujuannya dan asalnya. Lisa pun menjawab seadanya.

Malam pun menjelang dan hujan turun dengan derasnya. Rupanya inilah pertama kalinya hujan turun setelah musim kemarau yang kering selama berbulan-bulan. Hujan pun turun tak tanggung-tanggung. Benar-benar lebat diiringi suara guntur yang bersahut-sahutan… Seakan menandai suatu peristiwa besar yang akan terjadi malam itu….

“Bu… Mobil Ibu dipindah saja ke belakang rumah. Biar nggak basah!” kata si pria.

Lisa lalu memindahkan mobilnya ke arah belakang rumah yang terlindung atap rumbia. Dengan aba-aba dari Jarot, Nissan-nya dapat dipindahkan ke tempat yang aman. Pakaian Jarot basah oleh hujan. Lisa pun sempat tersiram air hujan saat menuju mobilnya.

Jarot menyarankan Lisa untuk membawa pakaian ganti dari dalam mobil. Jika tidak diganti akan membuatnya sakit dan menyulitkan pencarian suaminya esok hari. Lisa menuruti kata-kata si pria karena memang ada benarnya juga.

Sesampainya di dalam rumah, Jarot mempersilakan Lisa untuk berganti pakaian di kamar depan. Lisa pun masuk kamar. Sambil memperhatikan, Jarot mengunci pintu rumah lalu menyembunyikannya kuncinya.

Ia memperhatikan langkah Lisa menuju kamar. Ia akan segera menyusul untuk melaksanakan niatnya.

Saat Lisa melepaskan kaos dan kacamata minusnya, pria brewok itu masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Tubuh Lisa saat itu masih terbalut bra dan celana dalam.

Lisa kaget bercampur marah.

“Ada apa, Pak? Saya kan masih ganti pakaian…?” katanya dengan nada meninggi.

“Tenang sajalah, Bu… Aku hanya ingin melihat keindahan tubuh Ibu dari dekat… Soalnya jarang sekali aku melihat wanita secantik Ibu… Aku hanya ingin lihat…” kata Jarot dengan berani.

“Pergi keluar, Pak… Jika tidak saya akan berteriak…” jawab Lisa sengit sambil menutup dengan kaosnya belahan payudaranya yang menonjol dari sela-sela bra.

“Ayolah… Bu.. Jangan marah begitu… Silakan berteriak sekerasnya… Tidak ada yang akan menolong Ibu di sini…” jawab Jarot sambil mendekat ke arah Lisa. “Marilah kita sama-sama berbagi kehangatan di kedinginan malam ini…”

Lisa mundur dan terus berusaha memberi pengertian pada Jarot. Keringat dinginnya muncul meskipun saat itu cuaca dingin dan hujan. Keringatnya keluar karena menyadari akan bahaya yang segera ia hadapi. Namun Jarot pun terus mendesak istri Arman itu ke arah ranjang kayu yang terletak di pojok kamar itu. Lisa terdesak di pinggir ranjang.

“Jangan… Pak.. Saya mohon!… Jangan sentuh saya….” Lisa memohon pada begal itu.

“Saya akan bertindak lembut…. jika Ibu tidak macam-macam dan menyulitkan saya!” jawab Jarot.

Segala permohonan Lisa tidak digubris pria itu. Jarot terus mendesak Lisa hingga berhasil ia rangkul.

Saat-saat yang menegangkan itu pun lalu berjalan sesuai rencana Jarot. Ia lalu meraih tangan Lisa dan membawa Lisa ke arah tubuhnya untuk dipeluknya. Lisa terpaksa menurut karena tak bisa melawan. Dalam pelukan begal brewok itu, Lisa menangis karena bencana yang ia alami.

Lalu Jarot meraih dagu Lisa dan mengulum bibirnya yang kecil mungil. Lisa berusaha mengatupkan bibirnya agar tidak bisa dikulum si begal brewok. Namun segala upayanya sia-sia.

Jarot mendekap tubuh Lisa begitu eratnya. Secara spontan, wanita itu pun berusaha melepaskan dirinya. Apa daya, rontaan tubuh Lisa di dalam pelukan begal itu malah menimbulkan kontak dan gesekan-gesekan dengan tubuh Jarot yang pada gilirannya malah semakin memberikan kenikmatan pada begal itu dan menaikkan birahinya.

Si pria brewok itu pun berhasil mengulum dan membelit lidah Lisa. Lisa pasrah dan berusaha melepaskan belitan lidah si brewok. Jarot berhasil menghisap air ludah Lisa dan ia pun juga melepaskan ludahnya yang bau ke dalam rongga mulut Lisa.

Lisa jijik dan terus berusaha melepaskan diri dari betotan tubuh si pria. Ia harus menahan bau tubuh si pria dan kasarnya tangan-tangan si pria yang terus berusaha memilin dan meremas payudaranya yang masih terbungkus bra itu. Namun apalah daya seorang wanita yang lemah di samping ia pun sudah lemah secara psikis karena suaminya menghilang ditambah beban mental menghadapi upaya perkosaan terhadap dirinya.

Lisa hanya bisa menangis sesenggukan. Ia tidak rela diperkosa dan dicemari rahimnya oleh laki-laki laknat itu. Ingin rasanya ia bunuh diri saat itu juga…. namun alam bawah sadarnya masih mengingatkannya untuk tidak melakukan hal tercela itu.

Masih dalam pelukan erat begal itu, akhirnya Lisa berhasil ditundukkan. Bra yang menutupi payudaranya ia buka paksa. Kedua bukit salju yang mulus itu pun tergantung indah di dada Lisa. Tangan-tangan kasar Jarot yang penuh bulu itu berhasil menjamahnya. Dengan mulutnya, ia jilati dan gigiti putingnya. Lisa terlonjak sakit dan geli. Alam bawah sadarnya mulai menapaki rangsangan yang dihantarkan mulut begal itu yang mulai menampakkan wujudnya.

Lalu Lisa dibaringkan Jarot di atas kasurnya yang lusuh itu. Sebelumnya ia telah berhasil melepaskan seluruh penutup dada Lisa dan mengacak-acak dada wanita itu yang dihiasi oleh kalung berlian dengan inisial “L”. Jarot seakan tidak ingin kehilangan momen menentukan itu. Ia pun berusaha melepaskan celana jeans yang dikenakan Lisa.

Celana jeans yang dikenakan Lisa pun berhasil dilepaskan Jarot. Ia amat takjub dan terpana melihat batang paha Lisa yang jenjang dan putih mulus tanpa cacat itu terhidang di depan matanya. Celana dalam berwarna putih yang dikenakan Lisa saat itu membuatnya tambah bernafsu.

Jarot menyeringai…. Ia mendapati celana yang dipakai Lisa telah basah di belahan kemaluannya. Basah itu bukan basah keringat… Ia tahu persis bibir kemaluan yang basah itu karena lendir yang keluar dari liang vagina Lisa karena adanya nafsu yang muncul dari tubuhnya.

Sejak itu, Jarot benar-benar yakin kalau rencananya akan berjalan mulus dan lancar… Begal itu semakin merasa percaya diri… Ia yakin tubuh Lisa tak akan bisa berbohong terhadap rangsangan-rangsangan yang diberikannya… Tinggal sekarang ia harus bisa menguasai mental dan pikiran wanita itu sepenuhnya… sehingga tercapailah niatnya untuk menikmati tubuh Lisa sepuasnya…

Lalu Jarot menciumi celana yang basah di tengah kemaluan Lisa. Ada bau amis yang ia baui. Ia pun lalu melepaskannya. Wow…. itulah yang keluar dari mulut si begal.

Liang kemaluan Lisa masih rapi dan bulu-bulunya pun tertata indah meskipun saat itu amat lembab. Kemaluan Lisa tampak rapat dan belum ada celah yang longgar. Tidak seperti kemaluan pelacur-pelacur yang sering ia gauli selama ini, pikir Jarot. Ditambah lagi aroma kemaluan Lisa terasa beda sekali dengan yang ia temui selama ini.

Lalu ia pun mendekatkan wajahnya dan menyapu liang itu dengan lidahnya yang panjang juga kasar. Lidah Jarot mencari klitoris yang ada di sela liang itu. Ia lalu menciumi kemaluan Lisa sama seperti ia menciumi bibir Lisa tadi. Tidak ada rasa jijik di kepala pria itu.

Lisa masih terus menangis namun kini tubuhnya telah terbuka seluruhnya dan gairah yang dari tadi ia tahan akhirnya meledak juga. Jarot mengetahui bahwa Lisa saat itu telah siap untuk dicampuri kemaluannya. Bagaimanapun upaya Lisa untuk menyembunyikan gairahnya tetap tidak membantunya.

Karena vagina dan klitorisnya secara intensif terus-menerus dijelajahi mulut dan lidah Jarot, Lisa akhirnya mengalami orgasme. Tubuhnya tak bisa menolak rangsangan-rangsangan fisik yang terus-menerus dilancarkan padanya. Kemaluannya mengeluarkan cairan yang cukup kental. Cairan itu lalu ditelan Jarot hingga tandas tak bersisa. Kemaluan Lisa pun akhirnya bersih oleh lidah begal itu.

Tubuh Lisa menjadi lemah tak bertenaga. Ia benar-benar letih akibat kejadian-kejadian yang baru saja ia alami. Peristiwa itu membuatnya kehilangan kontrol dan membuatnya cenderung menurut pasrah. Ia pun terkulai bugil di atas ranjang.

Jarot merasa yakin kalau Lisa kini telah pasrah dan menyerah padanya. Tanpa ragu, ia pun membuka celananya di depan istri Arman yang sedang terbaring lunglai. Segera, Lisa pun dapat melihat batang penis begal itu yang menggelayut seperti belalai gajah yang hitam…. Ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya melihat alat kelamin yang sedemikian besarnya…. Semakin bertambah lagi keterkejutannya saat menyadari penis Jarot ternyata… tak dikhitan… Kepala penisnya tampak tertutup seperti kado yang belum dibuka….

Jarot lalu menaiki ranjang kayu itu. Dengan kedua tangannya, dibukanya kedua kaki Lisa sehingga terbuka mengangkang. Begal itu menempati posisi di tengah, di antara kedua kaki Lisa. Lalu Jarot melucuti baju kaos kumal yang dikenakannya dan melemparkannya ke lantai. Kini Lisa bisa melihat dengan jelas tubuh Jarot yang kekar, liat dan legam terbakar matahari. Berbagai macam tato menghiasi sekujur tubuhnya…. mulai dari pinggang hingga pangkal lengannya….

Kini di atas ranjang dua tubuh telanjang berlainan jenis telah siap melakukan perkawinan… Yang wanita adalah seorang ibu rumah tangga muda yang terbaring tak berdaya setelah diculik… dengan tubuh yang langsing, kulit putih mulus dan wajah cantik rupawan… Sedangkan si pria di atasnya yang siap mengawininya adalah seorang begal brewok dengan tubuh hitam kekar penuh dengan bekas luka dan tato… Lisa sama sekali tak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya….

Perlahan-lahan, Jarot lalu menaikkan kedua kaki Lisa yang masih mengangkang sehingga melingkari pinggulnya yang legam dan kekar. Lisa melihat kedua pahanya kini mengapit tato bergambar setan berwujud tengkorak yang menghiasi bagian perut Jarot.

Kemudian Jarot menggosok-gosokkan batang penisnya ke kemaluan Lisa… Lambat laun batang itu pun tumbuh semakin mengeras dan tegak…. Lisa pun kegelian merasakan kemaluan Jarot yang tumbuh menyentuhi kemaluannya. Setelah penis Jarot mengeras sepenuhnya dan siap dipakai, begal itu lalu mengarahkan kemaluannya yang panjang dan hitam Legam itu ke arah bibir kemaluan Lisa. Siap untuk dibenamkan ke dalamnya.

Bibir kemaluan Lisa masih rapat dan belum bisa menerima benda asing yang akan memasukinya saat itu. Lalu dengan jari tangannya Jarot membuka bibir itu dan menyelipkannya di tengahnya. Merasa batang penisnya telah siap lalu si begal pun mendorongnya hingga masuk ke dalam lubang kelamin ibu rumah tangga itu.

Saat penis Jarot masuk menyeruduk ke dalam kemaluan Lisa dengan kerasnya, spontan wanita itu pun terbelalak matanya dan ternganga lebar mulutnya. Seberkas jeritan tertahan di tenggorokannya. Sebentar kemudian, ia pun meringis…. kedua matanya terpejam menahan nyeri dan sakit pada rahimnya. Tak terasa air matanya pun menetes…

“Aduuuh…….. Paak…!! Ampuuun…” jeritnya halus mengiba belas kasihan kepada begal itu.

Jarot masih mendorong penisnya untuk masuk terus hingga dasar kemaluan Lisa. Lisa pun terus menangis dan air matanya menetes membasahi pipinya yang putih saat itu. Tubuhnya pun terguncang-guncang di bawah tubuh kekar Jarot.

Mengetahui tangisan Lisa saat menerima penisnya masuk, Jarot lalu memeluk Lisa dengan ketat dengan posisi tetap di atas tubuh putih Lisa. Ia peluk Lisa dan diciuminya bibir Lisa seakan tidak ingin terpisahkan. Jarot ingin bibir mereka juga menyatu sama seperti bagian bawah tubuh mereka yang telah dempet menyatu saat itu.

Rasa sakit dan perih di tubuh Lisa diungkapkannya dengan menekan bahu si begal yang kekar dengan kukunya yang runcing. Ia terus sesenggukan dan membenamkan kukunya di bahu bidang itu. Semua tindakan Lisa itu apalah artinya bagi pria yang terbiasa merampok itu. Jangankan kuku, golok pun telah ia rasakan.

Bahkan respons yang didapatnya saat menyetubuhi Lisa benar-benar membuatnya merasa nikmat. Ia tahu Lisa adalah istri orang… tapi menyetubuhinya sama seperti memperawani seorang gadis yang lugu dan belum berpengalaman….

Jarot tetap mendiamkan penisnya yang panjang dan besar itu di dalam kemaluan Lisa. Ia ingin mereguk kehangatan tubuh istri Arman itu dengan sempurna. Khususnya kehangatan yang berasal dari jepitan kewanitaan ibu rumah tangga itu. Apalagi dinding-dinding kemaluan Lisa terasa berdenyut-denyut… memijati penis Jarot yang keras…. Ia pun menikmati semua itu sambil terus mengulum bibir Lisa dan menjilati bagian belakang telinganya yang basah oleh keringat.

Rambut Lisa yang sebahu pun telah basah seolah turut menangisi keadaan Lisa saat itu. Dari tengkuk Lisa jilatannya terus berpindah kearah bahu yang putih bersih hingga menampakkan aliran merah darah dari urat-urat Lisa. Nafsu Jarot terus terpacu karena wangi tubuh Lisa yang juga masih tercium aroma Channel numero 5 yang telah bercampur dengan keringatnya saat itu.

Setelah puas di bahu, lalu ia turun ke arah payudara Lisa yang bernomer 34B itu. Di payudara Lisa mulut pria yang penuh oleh cambang dan kumis itu terus bermain-main dengan puting dan belahan susu itu. Jejak cupangan merah mulai banyak menghiasi kedua payudara yang putih dan mulus itu…

Ia telah membuat Lisa seakan lupa daratan. Lisa terus memejamkan matanya tidak ingin melihat kelakuan pria asing yang baru dikenalnya itu di atas tubuhnya.

Cengkeraman Lisa pada bahu Jarot akhirnya melemah. Ia telah orgasme untuk yang kedua kalinya. Hanya saja ia berusaha keras untuk tak menampakkannya karena malu…

Lalu si begal bergerak maju mundur dan terus menghujamkan kemaluannya ke dalam liang Lisa. Sedang kedua tangannya memegangi pinggang Lisa agar tetap di tempatnya. Lisa sebenarnya menikmati genjotan begal itu… Bagaimanapun ia belum berani menunjukkannya sehingga ia pun memejamkan kedua matanya. Sementara kedua tangannya tergeletak ke samping sambil meremas-remas seprei kumal yang sudah tak jelas warnanya itu.

Saat itu yang terdengar hanya dengus nafas dan erangan kedua makhluk yang sedang kawin itu.

Setelah beberapa lama perkawinan itu berlangsung… akhirnya si begal brewok itu pun melepaskan spermanya dengan gerakan begitu cepat dan hunjaman yang keras ke dalam kemaluan Lisa. Sambil melenguh-lenguh dengan suara berat, ia terus menekannya seolah ingin menuntaskan dendam birahi ke dalam tubuh Lisa dengan kasar. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh liang Lisa. Rembesannya keluar membasahi sprei kasur itu.

Di saat yang bersamaan, rupanya Lisa pun kembali mengalami orgasme… Kali ini tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali… Erangan panjang terlontar dari mulutnya… Dalam hati Lisa sedikit terkejut dan malu… Ia tak mengira akan sedemikian eksplisitnya orgasmenya nampak tanpa bisa disembunyikannya sama sekali… Ditambah lagi kenyataan bahwa mereka mengalami orgasme secara bersamaan…

Sementara Jarot yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya… Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di kemaluan Lisa… Seakan ingin memompakan sisa-sisa sperma yang masih ada ke dalam rahim wanita itu… dan menandai Lisa sebagai milik pribadinya….

Lalu diciuminya seluruh wajah Lisa… dikulumnya dalam-dalam mulut wanita itu… seolah ingin menghargai apa yang telah mereka lalui bersama di ranjang itu… Lisa yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya… Baru kali ini ia mengalami perasaan sepenuhnya dimiliki dan dikuasai oleh seorang lelaki…

Sampai akhirnya gerakan kedua tubuh yang sama-sama telanjang itu pun mengendor…. Jarot masih menindihi tubuh Lisa yang telanjang. Selama beberapa menit mereka terpaku dalam posisi seperti itu… sampai penis Jarot yang telah lemas keluar dengan sendirinya dari kemaluan Lisa…

Setelah itu, karena capai si begal bergeser ke sebelah Lisa dan tertidur. Ada gurat kepuasan di wajahnya yang garang dan kejam. Ia telah berhasil menunaikan hasratnya yang ia dambakan pada Lisa. Ia pun tertidur pulas.

Sementara itu, Lisa yang telah pulih kembali pikiran dan akal sehatnya yang sebelumnya tertutup oleh hawa nafsu hanya bisa menangis… Ia merasa berdosa telah mengkhianati suaminya… Ia merasa dirinya kotor… tak ada bedanya seperti pelacur-pelacur yang ditemuinya di motel malam sebelumnya…

Masih dengan tetesan air mata di pipi, Lisa lalu bangun dari ranjang kayu itu dan mengenakan kembali seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai kamar.

Sebenarnya ia ingin mandi membersihkan seluruh tubuhnya dari sperma dan keringat begal itu… Sayang rumah itu tak memiliki kamar mandi sendiri. Ia merasa telah amat kotor saat itu… Apa daya, kepada siapa ia bisa mengadu. Semuanya telah terjadi. Tak mungkin ia dapat membalik waktu…

Lisa pun berjalan ke arah pakaian Jarot berusaha mencari kunci kamar agar bisa keluar namun tidak ditemukannya.

Karena kecapaian setelah pergumulan laknat tadi ditambah masalah suaminya yang menghilang, Lisa pun akhirnya hanya bisa terduduk jongkok di sudut kamar. Ia pun terlelap. Namun saat ia baru saja terlelap, tiba-tiba si begal itu bangun dan menarik Lisa agar tidur di sampingnya di atas ranjang kayu itu.

Lisa terpaksa menurut karena ia tidak dapat lagi melawan. Lalu ia berbaring di samping si brewok yang masih bugil hingga malam menjelang.

Sesekali di atas ranjang saat mereka tidur berdampingan, tangan Jarot yang kasar meremas payudara Lisa yang telah tertutup bra dan kaos yang dikenakannya. Lisa pun selalu melepaskan tangan si begal yang gatal itu. Bagaimanapun intimnya hubungan yang telah mereka lalui bersama-sama pada malam itu, Lisa tetap merasa dirinya sebagai istri Arman yang sah… Begal itu tak lain sekedar memaksanya dan memperbudaknya untuk melayani nafsu birahinya…

Tak lama kemudian, mereka berdua pun tertidur saking lelahnya.

Tengah malam Lisa terjaga. Ia merasa mendengar suara orang yang memanggil-mangil namanya.

Ia pun duduk dan membangunkan begal brewok di sampingnya yang saat itu masih bertelanjang. Tubuh hitam dan penuh bulu itu lalu bangun.

“Ada apa Lisa”? tanya Jarot.

“Aku mendengar suara-suara orang di luar memanggil-manggil namaku,” jawab Lisa.

Mendengar perkataan Lisa saat itu, Jarot mengenakan celana pendeknya dan masih bertelanjang dada.

“Coba kulihat keluar,” katanya.

Lalu mereka keluar rumah. Hujan masih turun dengan derasnya. Suara yang didengar Lisa itupun tidak ada lagi.

“Nah, tidak ada bukan?” sahut begal itu.

“Rumah ini letaknya jauh dari perkampungan penduduk, Lisa… Di sekeliling sini masih hutan lebat…”

Mereka pun kembali ke dalam rumah Jarot yang memang tidak memiliki penerangan listrik. Lisa diam memperhatikan tingkah laku si pria.

“Waduh…” kata Jarot sambil memegangi perutnya. “Aku lapar sekali… Kau juga lapar, Lisa?”

Spontan Lisa mengangguk.

Memang pastilah perut mereka lapar karena kegiatan mereka yang sangat panas tadi di ranjang telah menghabiskan banyak energi. Lisa pun jelas sangat lapar karena makanan yang terakhir masuk ke dalam perutnya adalah sarapan pada pagi harinya.

“Di mobilku ada makanan, Pak… Perbekalan terakhir yang dibeli oleh suamiku sewaktu di Lampung,” terang Lisa.

“Aaa.. bagus lah itu… Kalau begitu ayo kita ambil,” sahut begal itu.

“O, ya. Satu hal lagi… Jangan panggil aku ‘Pak’… Panggil saja Jarot, ya? Semua wanita yang sudah kutiduri boleh memanggil namaku saja…”

Jarot kemudian mengambil makanan yang ada di mobil berdua dengan Lisa. Dirangkulnya pundak wanita itu seolah mereka sepasang kekasih…

Jarot melepaskan rangkulannya saat ia mengangkuti makanan dari mobil. Saat itu sempat terlintas di kepala Lisa untuk melarikan diri namun ia tidak mampu karena ia masih berpikir akan keselamatan suaminya.

Mereka pun balik ke dalam rumah Jarot dan makanan itu mereka habiskan tanpa sisa.

Karena waktu masih malam dan hujan turun dengan derasnya, mereka pun kembali ke kamar untuk tidur. Lisa merasa badannya masih pegal dan capai. Ia ingin beristirahat dan dapat tidur dengan nyenyak malam itu.

Sesampai di kamar, mereka naik ke ranjang kayu itu. Ternyata, di atas ranjang, kejahilan si begal mulai muncul lagi. Rupanya makanan yang diberikan Lisa tadi telah mampu membantunya memulihkan tenaganya kembali… Ia pun berusaha kembali merangsang Lisa untuk bersebadan lagi.

“Sudahlah, Jarot… Saya capek…” kata Lisa mencoba mencegah.

“Lisa, dingin-dingin begini aku tak bisa tidur,” jawab Jarot.

Tanpa banyak bicara lagi, si begal pun melepaskan celananya. Walaupun masih merasa agak rikuh karena belum terbiasa melihat lelaki telanjang selain suaminya, Lisa mencuri-curi pandang juga ke arah penis Jarot yang menggelantung di selangkangannya. Dalam hati sebenarnya ia kagum juga melihat belalai yang panjang itu. Masih terbayang jelas dalam ingatannya bagaimana monster itu memasuki tubuhnya dan membuatnya orgasme berkali-kali…

Setelah ia bugil, tanpa minta persetujuan Lisa, dilucutinya pula busana wanita itu sehingga mereka pun sama-sama telanjang kembali. Lisa tak mampu menolaknya lagi…

“Dingin…” desah Lisa sambil melipat kedua tangan menutupi dadanya… Hujan memang masih turun dengan lebatnya di luar sana. Bahkan semakin deras diiringi guntur yang meledak-ledak.

“Jangan khawatir, Lisa… Sebentar lagi juga panas…” kata begal itu tersenyum sambil menatap mata Lisa dengan penuh arti. Dibukanya lipatan tangan Lisa karena Jarot ingin menikmati dan merabai keindahan kedua payudara wanita itu. Lisa membiarkan saja begal itu memulai aksinya dan menikmati rangsangan yang diberikan padanya…

Jarot dalam waktu singkat telah berhasil membuat Lisa tidak berdaya menolak apa pun yang dimintanya. Seakan wanita itu telah berada sepenuhnya dalam kekuasaannya… Begitu pula ketika ia meminta pada istri Arman itu untuk mengisap penisnya dengan mulutnya.

“Apaa…?” tanya Lisa terkejut. Mulutnya menganga. Matanya menatap Jarot seakan tak percaya dengan permintaan begal itu terhadap dirinya. Bagaimana bisa ia meminta hal seperti itu kepada seorang wanita yang baru dikenalnya? Ya, begal itu memang baru saja menyetubuhinya… tapi meminta ia mengisap penisnya…? Lisa membayangkan pastilah begal itu menganggap dan memperlakukannya sama seperti ratusan pelacur yang pernah ditidurinya…

“Saya gak bisa… Maaf… Gak mungkin…” kata Lisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa salah tingkah.

“Jangan khawatir, Lisa… Nanti akan kuajari,” kata Jarot menenangkan Lisa yang mukanya tampak kecut.

“Ayo… tak apa-apa… Aku benar-benar ingin kau melakukannya untukku…”

Lisa tampak ragu-ragu tapi ia pun tak berbicara lagi. Jarot mengerti kalau ia harus segera melakukannya. Yang diperlukan Lisa adalah bimbingan. Maka tanpa minta persetujuan Lisa lagi, ia pun mendekatkan pangkal pahanya ke wajah ibu rumah tangga yang sedang menunggu itu.

Lisa lalu diajari si brewok untuk melakukan seks oral. Wanita itu awalnya merasa canggung dan ragu. Bau pesing bekas air seni terasa jelas bercampur dengan aroma sperma dan keringat Jarot. Dirasakannya juga cairan vaginanya ada di sana, ikut bercampur menyelimuti batang yang keras itu… Semuanya itu terasa lengket di dalam mulutnya saat bercampur dengan air ludahnya.

Setelah membiasakan diri, akhirnya Lisa bisa juga melakukannya dengan panduan Jarot. Apalagi begal itu terus-menerus memujinya sambil membelai-belai kepalanya sehingga meningkatkan rasa percaya diri ibu rumah tangga itu…

Penis Jarot yang semula tertutup lapisan kering campuran dari air seni, air mani, keringat, dan cairan vagina Lisa sedikit demi sedikit mulai bersih dijilati istri Arman itu. Tinggal kini batang hitam yang mengeras dan tak dikhitan itu berkilauan disapu air liur Lisa…

Jarot merasa sangat puas dengan layanan Lisa… Sebagai imbalannya, wanita itu pun menerima semprotan sperma begal itu di mulutnya.

Spontan air mani Jarot yang kental itu pun tertelan olehnya. Walaupun menyadari bahwa itu adalah konsekuensi dari seks oral, Lisa tetap sempat terkejut saat menerima siraman sperma begal itu di dalam mulutnya… Bagaimanapun itu adalah pertama kalinya ia melakukan itu….

Untunglah Lisa cepat menguasai dirinya sehingga tidak sampai memuntahkan kembali air mani yang sudah terkumpul di dalam mulutnya… Sedikit demi sedikit ditelannya cairan kental itu supaya tidak tersedak… Jarot memperhatikan usaha Lisa sambil tersenyum puas…

Begal itu lalu membersihkan bibir Lisa yang belepotan sperma dengan kain sprei yang kumal.

Dari seks oral itu, untuk kedua kalinya malam itu Lisa dan si begal melakukan hubungan badan. Sebelumnya, terlebih dahulu Lisa membantu membangkitkan kembali penis Jarot dengan tangan dan mulutnya…

Kali ini permainan menjadi amat bergairah. Lisa sudah mulai terbiasa menerima sodokan penis Jarot di kemaluannya. Kali ini keduanya sudah seperti pasangan yang serasi… sudah seirama dan saling beradaptasi dalam persetubuhan itu… Lisa pun tak melakukan perlawanan sama sekali terhadap Jarot. Dibiarkannya begal itu membimbingnya mendaki puncak kenikmatan bersama…

Malam itu akhirnya kedua makhluk yang berlainan jenis dan status itu menyatu kembali dalam kesatuan ragawi. Bersatu padu dalam perkawinan yang panas dan bergairah… Tak ada lagi batas di antara mereka.

Lisa yang memang wanita baik-baik dan terpelajar serta masih berstatus sebagai istri orang, kadang masih berusaha membuat kesan ia tidak begitu menikmati persetubuhan itu. Namun yang sebenarnya terjadi, Lisa benar-benar menikmatinya. Kemaluannya pun menerima banyak lelehan air mani si perampok brewok tersebut.

Kenikmatan badani yang diterimanya dari Jarot sedikit demi sedikit membantu pikiran Lisa terbuka terhadap kemungkinan bahwa Arman suaminya telah tewas hanyut terbawa arus sungai atau dimakan binatang buas. Terlepas dari kenyataan yang tidak diketahui Lisa bahwa Arman sebenarnya masih hidup dan disekap oleh Jarot. Pikiran itu pula yang membuat Lisa pelan-pelan mulai merasa rileks menjalin hubungan intim bersama begal itu.

Bahkan Lisa mulai terbuka pula terhadap kemungkinan bahwa Jarot adalah takdirnya… Jodohnya yang berikutnya setelah ia terpisahkan dengan Arman… Ia seperti mendapatkan sosok lelaki sejati pada figur Jarot. Profil Jarot yang berperilaku buruk tapi perkasa membawa pesona tersendiri di matanya… Pemikiran-pemikiran itulah yang membantu Lisa secara sadar semakin membiarkan jiwa dan raganya bersatu dengan Jarot…. Apalagi bimbingan Jarot semakin memudahkannya…

Sementara Jarot sendiri tentu saja amat menikmati hubungan seks dengan Lisa… Ia sebelumnya tak pernah merasakan bagaimana berhubungan badan dengan wanita baik-baik dan terhormat. Tak pernah pula ia merasakan bersetubuh dengan wanita secantik dan seseksi Lisa… Bersebadan dengan Lisa ibarat mimpi yang menjadi kenyataan bagi Jarot… Ia merasakan perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan semua pelacur yang ia kenal selama ini. Ini membuatnya jadi ketagihan…

Yang diinginkannya saat ini adalah menikmati Lisa sepuas-puasnya. Setelah itu, siapa tahu ia pun bisa mendapatkan keturunan darinya yang bisa meneruskan statusnya sebagai begal penguasa daerah itu.

Selain itu, jika kepepet, dengan modal kecantikan dan keseksian gendaknya yang baru itu, Jarot bisa saja mengkaryakan Lisa sebagai pelacur. Pastilah banyak begal dan warga sekitar situ yang akan berbondong-bondong membayar berapa saja untuk bisa menikmati Lisa. Bagi Jarot, mendapatkan Lisa seperti mendapatkan harta karun atau modal yang demikian besar…

Bagaimanapun, Jarot memang tidak pernah sungkan untuk berbagi milik pribadinya dengan sesama kaumnya. Itulah salah satu yang membuatnya disegani di kalangan begal dan perampok di sana. Paling tidak, untuk waktu dekat ini, Jarot tetap ingat akan janjinya untuk membagi Lisa kepada si pemilik motel atas jasanya…

“Aah… nanti sajalah aku ceritakan semua rencanaku itu pada Lisa sedikit demi sedikit,” pikir Jarot sambil memandangi wajah Lisa yang sedang menahan gejolak orgasme akibat genjotannya mautnya. “Perempuan pasti akan menuruti apa yang dikatakan oleh lakinya… Terbukti semua keinginanku terhadap dirinya sejauh ini diturutinya dengan patuh… Padahal sampai kemarin, siapa yang sangka kalau seorang wanita terhormat seperti dia akan tunduk pada begal sepertiku…”

“Oouuuuuuh…” jerit Lisa menikmati orgasmenya yang bertubi-tubi dan memabukkan… Rintihan dan ekspresi wajahnya yang erotis membuyarkan semua angan yang berkecamuk di kepala Jarot.

“Lisaaaaa…… Hhhggggh….” lenguh Jarot melepaskan semua sperma yang ditahannya dari tadi ke dalam rahim istri Arman sebagai balasannya.

Kemudian hening. Hanya degupan jantung keduanya yang terasa bergejolak di dada mereka yang saling menempel.

Si begal dan gundik barunya menyatu bugil di atas ranjang. Keduanya berpelukan erat. Jarot di atas Lisa. Kaki Lisa yang mengapit pinggul Jarot menekan pantat begal itu supaya tetap di tempatnya. Mereka pun berciuman dengan syahdu. Menikmati setiap detik keintiman mereka.

Hujan pun seolah menjadi saksi berjodohnya Jarot dan Lisa dalam malam pertama perkawinan mereka yang dahsyat….